
OPINI- Kami Merindukan Pemimpin yang Kuat?
Ada paradoks besar yang kita hadapi saat ini. Di satu sisi, kita mendambakan pemimpin yang kuat, namun di sisi lain, kita skeptis dan ingin mandiri. Kepercayaan pada pengetahuan dan kekuasaan absolut semakin memudar. Kita mencari bimbingan, tetapi tidak ingin didikte. Saatnya membentuk kepemimpinan baru yang mencerminkan kolaborasi, kerentanan, kemanusiaan, dan perhatian terhadap kepentingan sosial.
Mengapa Sulit Menemukan Pemimpin?
Kita sedang menghadapi krisis kepercayaan terhadap budaya kita. Banyak pemikir, politisi, psikolog, dan sosiolog berpendapat bahwa kita telah memasuki era baru, di mana pencerahan menandai akhir dari otoritas dan kerangka kerja tradisional. Sejak saat itu, masyarakat percaya bahwa segala sesuatu dapat diubah dan subjek—yaitu kita—menjadi sentral. Tren ini semakin menguat dalam lima puluh tahun terakhir, didorong oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, pasar, dan media. Akibatnya, otoritas tradisional dan model kepemimpinan kita kehilangan legitimasi. Sebagai individu, kita dituntut untuk mengatur hidup kita sendiri dengan mencari ahli terbaik di setiap bidang. Namun, para profesional saat ini sering kali memiliki keahlian yang terbatas, dengan prediksi yang hanya berdasarkan probabilitas. Kita terus mencari jawaban pasti dari para ahli, namun besok semuanya bisa berubah.
Bagaimana Hal Ini Mempengaruhi Harapan Akan Sosok Pemimpin?
Ketidakpastian masa depan membuat kita merasa tidak aman. Kita merindukan pemimpin yang dapat membimbing kita dengan cara baru, karena kepemimpinan ekonomi dan politik saat ini tidak memadai. Ekonomi kita sangat tidak konsisten dan tidak dapat diprediksi, sementara efektivitas kepemimpinan politik juga masih dipertanyakan. Negara ini tampak di bawah tekanan besar dari pemimpin-pemimpin otoriter, dengan berbagai permasalahan yang sering kali melampaui batas-batas etika. Semua lapisan masyarakat, organisasi, dan individu berada dalam kesulitan.
Kita hidup dalam masa transisi yang bisa dibandingkan dengan peralihan dari Renaisans ke Modernitas. Segalanya tampak kacau, dan seperti masyarakat pada masa itu, kita mengalami krisis makna. Jika krisis ini semakin parah dalam beberapa dekade mendatang, dengan percepatan pembangunan, kemerosotan ekonomi, dan ketidakberdayaan para pemimpin politik, kita akan menghadapi situasi serupa. Ada paradoks besar antara kebutuhan akan bimbingan di masyarakat modern yang penuh ketidakpastian dan ketidakmungkinan adanya bimbingan yang mutlak.
Bagaimana Kita Menghadapinya?
Kita memerlukan bentuk kepemimpinan baru di mana otonomi dan kebebasan ditafsirkan secara berbeda. Kebebasan, yang sangat dijunjung tinggi sejak abad ke-18, kini berarti kemandirian dan tidak adanya campur tangan. Namun, otonomi yang bertepatan dengan kepemimpinan otokratis harus digantikan dengan kepemimpinan yang berbasis pada koneksi.
Apa Bedanya dengan Perusahaan Keahlian yang Anda Sebutkan Sebelumnya?
Kepemimpinan baru adalah tentang manajer yang mencari hubungan, menganjurkan kepemimpinan bersama, dan menempatkan tim di atas individu. Tim ini memiliki sikap, “kami adalah pemimpin dari sekelompok orang dan kami terhubung dengan mereka.” Kebebasan bukan berarti kemandirian, melainkan membatasi diri dan mempersiapkan keputusan bersama. Koordinasi, empati, dan hubungan adalah inti dari kepemimpinan politik yang baru. Kepemimpinan yang baik juga harus didasarkan pada pengetahuan yang kontekstual, terikat waktu dan tempat. Legitimasi pemimpin tidak bisa lagi berdasarkan ilusi pengetahuan absolut.
Tidak ada perbedaan besar. Kita memerlukan panduan di banyak bidang kehidupan, dan para ahli serta profesional ada di mana-mana untuk memberikannya. Namun, mereka tetap bisa salah. Oleh karena itu, saya menganjurkan kepemimpinan ganda, di mana dialog, kontradiksi, dan kebebasan berbicara menjadi sumber daya yang diperlukan.
Pemimpin Era Baru: Lebih Manusiawi?
Kepemimpinan Baru: Kolaborasi dan Koneksi
Ada tiga poin penting dalam kepemimpinan baru: kolaborasi, koneksi, dan penerimaan bahwa pengetahuan absolut tidak ada. Kepemimpinan moral adalah komponen kunci dari kepemimpinan baru ini. Pemimpin baru harus selalu mengingat signifikansi sosial dalam segala hal yang dilakukan, baik dalam organisasi, keluarga, perusahaan, atau negara. Kepemimpinan klasik sering kali berfokus pada mempertahankan kekuasaan dan keuntungan, tetapi kepemimpinan baru harus bertanya, “Apa kepentingan saya dan organisasi saya, dan bagaimana kita bisa menyelaraskannya dengan kepentingan sosial?”
Bagaimana Implementasinya?
Mengimplementasikan kepemimpinan moral tidaklah mudah, terutama dalam konteks persaingan yang ketat dan kebutuhan untuk tetap stabil secara finansial. Max Weber telah menggambarkan hal ini sebagai “sangkar besi” dalam ekonomi kapitalis kita. Namun, kita harus berusaha mencari celah dalam sangkar ini. Kita memerlukan tipe pemimpin yang memiliki cakrawala nilai yang transenden, seperti yang diuraikan oleh Plato, yang menekankan pentingnya orientasi terhadap kebaikan.
Apakah Pemimpin Rentan Bisa Eksis dalam Masyarakat yang Menginginkan Pemimpin Kuat?
Kerentanan adalah aspek mendasar dari kepemimpinan. Kita adalah makhluk yang terbatas, rentan terhadap kesalahan, dan ketidakpastian. Keyakinan bahwa kesalahan bisa dan harus dihilangkan adalah ilusi. Kepemimpinan berarti membuat kesalahan dan belajar hidup dengan ketidakpastian.
Pemimpin era baru lebih memahami apa artinya menjadi manusia. Otonomi tidak berarti kemerdekaan; empati bukan solidaritas buta, dan tragedi adalah bagian dari kehidupan. Pemimpin adalah orang yang telah melalui berbagai siklus kehidupan dan memiliki pengalaman yang membentuk mereka. Para pemikir, dengan orientasi terhadap kebajikan dan nilai-nilai sosial, harus berusaha menjadi pemimpin baru yang membawa perubahan positif dalam masyarakat.
Palembang, 30 Agustus 2024
Gesah Politik
Ade Indra Chaniago – Indra Darmawan KK