Kehidupan Pasutri di Ibu Kota

Saya dan istri pernah tinggal di Jakarta, kota yang sering digambarkan sebagai kejam bagi mereka yang berjuang di dalamnya. Kami menikah pada tahun 2006, dan satu tahun kemudian, istri saya hamil anak pertama kami, seorang bayi laki-laki. Namun, kebahagiaan itu segera berubah menjadi mimpi buruk. Kandungan istri saya lemah, dan setelah mengalami kontraksi berkepanjangan, bayi kami harus dilahirkan prematur. Sayangnya, anak pertama kami tidak bisa diselamatkan.

Saat itu, kami marah. Kami menyalahkan dokter, rumah sakit, dan siapa saja yang terlibat. Kami merasa nyawa anak kami tidak ditangani dengan baik. Namun, seiring waktu, kami mulai menyadari bahwa ini adalah bagian dari takdir yang harus kami terima, meski begitu berat.

Satu tahun kemudian, istri saya kembali hamil, kali ini anak perempuan. Namun, lagi-lagi, kandungan istri bermasalah. Dokter bahkan menyarankan aborsi, karena menurut mereka, anak kami mengalami penyakit hidrosefalus—kondisi di mana cairan menumpuk di otak sehingga kepala bayi membesar. Dokter mengatakan tidak ada harapan bagi bayi ini, dan aborsi adalah pilihan terbaik untuk menyelamatkan istri saya.

Namun, kami tidak bisa menerima saran itu. Bagi kami, itu melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Kami memilih untuk mempertahankan kehamilan dengan segala risiko yang mungkin terjadi. Kami siap kehilangan anak kami, atau bahkan istri saya sekalipun, jika itu adalah takdirnya.

Dengan kekuatan Allah, anak kami berhasil dilahirkan melalui operasi pada usia kandungan 10 bulan. Namun, baik istri saya maupun bayi perempuan kami harus dirawat secara intensif. Anak kami masuk ke dalam inkubator selama 14 hari, dan kami merencanakan untuk membawanya ke Singapura guna menjalani operasi besar untuk mengganti tempurung kepalanya.

Sayangnya, sebelum rencana itu terlaksana, Allah memanggilnya. Anak kami tidak mampu bertahan dan meninggal sebelum mencapai hari ke-14 di inkubator. Kehilangan kedua anak ini begitu memukul kami. Derita yang kami alami seakan tak tertahankan.

Dokter pun menyarankan istri saya untuk tidak hamil lagi dalam waktu dekat. Namun, kami masih berharap bisa memiliki anak. Pada tahun 2012, kami diberkahi dengan kehamilan ketiga. Proses kehamilan ini penuh dengan perjuangan dan tantangan. Nyawa istri saya kembali dipertaruhkan. Setelah proses persalinan yang terhambat selama berjam-jam, anak ketiga kami akhirnya lahir melalui operasi caesar. Dia pun harus dirawat di rumah sakit selama beberapa waktu sebelum bisa pulang.

Setelah melalui semua ini, saya mengambil keputusan besar: keluar dari pekerjaan saya di perusahaan swasta dan memulai kehidupan baru bersama istri dan anak kami. Kami ingin fokus pada keluarga, mencoba meraih kebahagiaan yang sederhana namun berarti.

Demikian cerita singkat ini. Mungkin di lain waktu, saya akan melanjutkan kisah perjuangan hidup kami.

Tinggalkan Komentar