Lanjutkan, Bukan Disabotase

OPINI- Demokrasi Indonesia telah melalui jalan panjang sejak era 1980-an hingga 1990-an, di mana generasi muda kala itu berhasil membuka enam pintu penting menuju masyarakat yang lebih demokratis. Kini, tantangan bagi generasi saat ini adalah melanjutkan apa yang telah dirintis, bukan malah menghancurkannya. Sayangnya, ada gejala-gejala sabotase yang justru menghambat perjalanan ini.

Pintu pertama yang dibuka adalah memaknai kembali kata rakyat. Di masa lalu, suara rakyat sering kali tidak terdengar, dipinggirkan oleh kekuasaan yang otoriter. Namun, gerakan-gerakan masyarakat sipil pada masa itu berhasil mengembalikan martabat rakyat sebagai pemilik kedaulatan. Rakyat kembali berani bersuara, menyuarakan hak-hak mereka, dan menuntut partisipasi lebih dalam pengambilan keputusan politik.

Pintu kedua adalah penghancuran budaya bisu. Sebelum gerakan ini, banyak pihak yang memilih diam karena tekanan atau ketakutan. Namun, keberanian generasi muda pada era itu menandai berakhirnya kebisuan. Mereka membuka ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan ketidakadilan dan menyampaikan aspirasi, sekaligus mendorong perubahan di semua lini kehidupan.

Pintu ketiga adalah peningkatan militansi rakyat dalam melawan ketidakadilan. Dalam menghadapi berbagai bentuk penindasan, generasi muda pada masa itu menyadari bahwa perlawanan rakyat harus lebih terorganisir, lebih solid, dan lebih masif. Militansi ini tidak hanya sekadar pemberontakan, tetapi bentuk perjuangan yang terencana dan memiliki visi jelas.

Pintu keempat adalah munculnya wadah-wadah organisasi yang mampu menampung semangat perjuangan ini. Gairah berorganisasi muncul dengan kuat, memungkinkan rakyat berkumpul, bersatu, dan bergerak dalam satu tujuan. Organisasi-organisasi ini menjadi instrumen penting dalam memobilisasi masyarakat dan memperkuat daya tawar mereka di hadapan penguasa.

Pintu kelima adalah tumbuhnya kesadaran akan hak dan keadilan. Generasi tersebut menyadarkan rakyat bahwa hak-hak mereka bukanlah pemberian dari penguasa, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan. Mereka menanamkan pemahaman bahwa tanpa kesadaran akan hak, keadilan hanya akan menjadi mimpi yang sulit dicapai.

Pintu keenam, dan mungkin yang paling krusial, adalah tuntutan akan pemerintahan alternatif. Pemerintahan yang ada saat itu dianggap gagal dalam memenuhi kebutuhan rakyat, sehingga lahir tuntutan untuk menciptakan pemerintahan yang lebih demokratis, lebih transparan, dan lebih adil. Tuntutan ini menjadi fondasi bagi gerakan reformasi yang kemudian mengubah wajah politik Indonesia.

Namun, apakah semua pintu ini tetap terbuka? Atau malah perlahan-lahan ditutup kembali? Di tengah situasi politik saat ini, ada tanda-tanda bahwa apa yang sudah diperjuangkan mulai tersabotase oleh pihak-pihak yang ingin kembali mengkonsolidasikan kekuasaan. Demokrasi yang telah dibangun dengan susah payah ini seolah-olah diserang dari dalam. Bukan oleh mereka yang terang-terangan menolak demokrasi, tetapi oleh mereka yang menggunakan demokrasi sebagai kedok untuk mempertahankan kekuasaan.

Generasi muda hari ini harus mengambil peran penting dalam menjaga agar pintu-pintu demokrasi ini tetap terbuka. Lanjutkan perjuangan, bukan sabotase! Jangan sampai pencapaian generasi sebelumnya hilang begitu saja karena kelalaian kita. Sebab demokrasi adalah sebuah proses yang harus terus diperjuangkan, bukan sesuatu yang bisa diraih sekali untuk selamanya.

Mesuji, 07 September 2024

Udin Komarudin

Jurnalis Nasional Indonesia [JNI]

Tinggalkan Komentar