
Di suatu negeri yang makmur, ada seorang presiden bernama Pak Susilo. Beliau terkenal dengan kampanye hemat energi dan penghematan anggaran. Namun, di balik itu, selalu ada kejadian-kejadian lucu yang bikin rakyat tersenyum miris.
Suatu hari, pemerintah mengumumkan bahwa mereka akan memulai kampanye besar-besaran: “Hemat Demi Masa Depan.” Semua diminta berpartisipasi. Poster-poster besar menghiasi tiap sudut jalan, lengkap dengan wajah Pak Susilo yang tersenyum ramah. Biaya kampanye ini, konon kabarnya, mencapai miliaran.
Di tengah upacara pembukaan kampanye, seorang MC bersemangat membuka acara. “Mari kita sambut, Bapak Presiden Susilo, dengan tepuk tangan yang meriah! Karena hari ini, kita akan memulai langkah besar menuju penghematan!”
Seketika itu, iringan musik megah mengalun. Belasan drone terbang menghiasi langit, menuliskan “Hemat Demi Masa Depan” dengan kembang api berwarna-warni. Setelah itu, diluncurkan juga balon-balon raksasa yang membawa slogan-slogan hemat energi. Rakyat di bawah tersenyum, tapi bukan karena bangga—lebih karena tak percaya. “Ini kampanye hemat atau pesta ulang tahun?” gumam Pak Joko, seorang tukang ojek yang sedang mangkal.
“Pak Presiden ini benar-benar hemat, ya,” sahut Bu Wati yang sedang menunggu di pinggir jalan. “Saking hematnya, kita bisa lihat uang rakyat terbang di udara dalam bentuk balon!”
Puncak acara adalah pidato dari Pak Susilo. Dengan suara lantang dan penuh semangat, beliau berujar, “Rakyatku! Mulai hari ini, kita harus berhemat! Kurangi penggunaan listrik, air, dan bensin! Mari kita jalani hidup sederhana!”
Di barisan depan, ada seorang anak muda bernama Udin yang mencatat pidato dengan serius. Namun, matanya tertuju pada layar raksasa yang menayangkan pidato presiden. “Lho, kok pakai layar segede itu sih, padahal suruh hemat listrik?”
Tak lama kemudian, setelah pidato selesai, datanglah rombongan menteri dengan mobil-mobil mewah. Mereka turun, tersenyum sambil melambaikan tangan, dan masuk ke restoran mahal untuk makan siang.
Pak Joko, yang sedang duduk tak jauh dari situ, mengelus dagu. “Hebat betul, pemerintah kita. Suruh kita hemat, tapi mereka sendiri makan siang di restoran bintang lima. Hemat untuk kita, mewah untuk mereka.”
Tak berapa lama, terdengar kabar bahwa pemerintah akan membeli jet pribadi baru untuk urusan ‘dinas mendesak’. “Jet baru untuk urusan mendesak?” kata Bu Wati sambil tertawa kecil, “Mungkin kalau urusan mendesak adalah jalan-jalan ke luar negeri!”
Rakyat semakin bingung, kampanye hemat yang digembor-gemborkan tampaknya hanya berlaku untuk mereka saja. Pemerintah tetap boros, tapi rakyat terus diminta menahan diri.
“Yang penting ada kampanye,” kata Pak Joko lagi. “Mungkin lain kali mereka bikin kampanye ‘Makan Sepiring untuk Rakyat, Dua Piring untuk Pemerintah’.”
Dan begitulah, kampanye hemat itu terus bergulir. Rakyat cuma bisa tertawa miris, karena di negeri yang katanya harus berhemat, kemewahan justru ada di tangan mereka yang memegang kekuasaan. Balon-balon raksasa, drone, dan pesta kembang api mungkin hanya awal dari keborosan yang lebih besar.
[Cerpen ini diambil dalam Catatan: Tukang Parkir Pasar Simpang Pematang 2017]