
PENDIDIKAN- Di tengah derasnya arus opini dan ungkapan publik, kita kerap menemukan banyak orang yang berbicara lantang tentang perubahan, visi besar, dan cita-cita mulia. Ironisnya, ucapan-ucapan tersebut sering kali berhenti sebatas kata-kata indah yang memanjakan telinga, tanpa dedikasi untuk mewujudkan apa yang diucapkan. Mereka tampak lebih seperti sosok yang senang memamerkan “perhiasan hidup” palsu, sekadar menampilkan gemerlap kata tanpa kekuatan nyata di baliknya.
Militansi – berupa dedikasi, integritas, dan komitmen nyata – sering kali justru menjadi barang langka di kalangan mereka yang pandai beretorika. Mereka yang berani menyuarakan pendapat, berpidato tentang idealisme, dan berjanji untuk bertindak demi kepentingan orang banyak, namun ketika ditantang untuk turun tangan, tangan mereka justru seakan tak tersentuh oleh tantangan. Berbicara seolah lebih mudah daripada bertindak; menjadi pesolek kata tanpa makna ternyata lebih nyaman daripada berkontribusi nyata di lapangan.
Perilaku semacam ini mengingatkan kita pada fenomena ‘KAWE’ – imitasi tanpa isi, hanya mempercantik permukaan tanpa ketulusan di dalamnya. Orang-orang ini lebih sibuk membangun citra daripada menyelami arti sebenarnya dari militansi yang mereka gembar-gemborkan. Mereka adalah ‘pesolek’ kehidupan yang lebih tertarik pada kesan daripada pada substansi, menyuguhkan “perhiasan” sebagai penutup bagi kedangkalan komitmen.
Apa yang kita perlukan bukanlah sekadar kata-kata manis, melainkan dedikasi yang nyata dan keberanian untuk merealisasikan komitmen tersebut. Militansi sejati lahir dari keteguhan hati dan kesediaan untuk berkorban demi nilai-nilai yang diucapkan. Masyarakat perlu menyaring, melihat, dan memilih mereka yang tidak hanya bicara tapi juga bergerak; yang tidak hanya menghiaskan kata tapi menghayati komitmen; yang bukan sekadar ‘pesolek’ tapi benar-benar berjuang dengan tulus. Karena hanya dengan tindakan nyata, perubahan dapat benar-benar dirasakan, bukan hanya terdengar sebagai janji manis.
Semoga kita semua belajar untuk tidak sekadar mengucap, tapi juga meresapi dan mewujudkan kata dalam tindakan.
Mesuji, 12 November 2024
Udin Komarudin
Jurnalis Nasional Indonesia