
SOSIAL– Dalam kehidupan sehari-hari, istilah “pahlawan” sering kali terdengar—baik dalam konteks politik, sosial, maupun budaya. Namun, apakah semua orang yang menginginkan predikat itu benar-benar pantas menyandangnya?
Seiring berjalannya waktu, makna kata “pahlawan” cenderung melebar hingga kehilangan esensinya. Sebagian orang merasa cukup melakukan aksi seremonial untuk disebut pahlawan, sementara yang lain bahkan berusaha mengklaim peran itu demi citra atau kepentingan tertentu.
Hari ini, media dan ruang publik penuh dengan narasi heroisme. Seorang pemimpin dianggap pahlawan karena membangun fasilitas publik, meskipun itu memang kewajibannya. Pejabat digambarkan sebagai pahlawan karena turun langsung ke lapangan, walau hanya dalam momentum tertentu. Tidak sedikit pula figur yang memanfaatkan isu kemanusiaan untuk meraih simpati, tanpa benar-benar memberikan dampak nyata.
Menilai Keaslian Kepahlawanan
Sejatinya, pahlawan bukanlah mereka yang bekerja dengan pamrih atau demi sorotan. Pahlawan adalah sosok yang rela berkorban demi kemaslahatan bersama tanpa memikirkan pujian. Sayangnya, nilai ini sering terdistorsi dalam era media sosial. Sekali unggahan “aksi heroik” dapat membawa seseorang pada glorifikasi instan.
Ini menjadi alarm bagi masyarakat. Jangan sampai penghargaan kepada pahlawan sejati justru tenggelam dalam hiruk-pikuk pencitraan. Kita perlu belajar menilai ketulusan dari aksi yang dilakukan, bukan sekadar dari narasi yang dibuat.
Pahlawan di Kehidupan Sehari-Hari
Pahlawan sejati tidak selalu berada di panggung besar. Mereka mungkin adalah seorang guru yang dengan tekun mendidik generasi bangsa, petani yang menyediakan kebutuhan pangan, atau bahkan relawan yang bekerja di tempat-tempat krisis tanpa publikasi. Kepahlawanan sejati lahir dari konsistensi, ketulusan, dan keberanian menghadapi tantangan, bukan dari keinginan untuk diakui.
Sebagai masyarakat, tugas kita adalah menghormati pahlawan tanpa pamrih, sekaligus tidak terjebak dalam glorifikasi semu. Jangan mudah terpukau oleh label, melainkan cermati dampaknya bagi orang banyak.
Pada akhirnya, pahlawan bukanlah soal siapa yang ingin disebut, melainkan siapa yang benar-benar memberi perubahan nyata bagi dunia di sekitarnya. Mari kita terus belajar menjadi pahlawan dalam versi terbaik kita—tanpa harus mencari pengakuan.
Mesuji, 20 november 2024
Udin komarudin
Jurnalis Nasional Indonesia