
POLITIK- Mesuji, tanah yang menyimpan sejuta cerita. Kini, ia memasuki babak baru dalam perjalanan demokrasinya. Masa tenang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bupati dan Wakil Bupati Mesuji telah tiba, menyisakan jeda di antara riuh gemuruh kampanye dan ketegangan menjelang pemungutan suara pada 27 November. Masa tenang, begitu orang-orang menyebutnya. Namun bagi para politikus dan pasangan calon, ia lebih dari sekadar waktu diam. Ia adalah hari keramat.
Bagi rakyat Mesuji, masa ini seolah menjadi momen kontemplasi, saat mereka merenung di tengah ketenangan yang penuh makna. Ini adalah waktu ketika janji-janji kampanye yang menggema di udara diuji dalam batin mereka. Mereka menimbang, memilih, dan memutuskan: siapakah yang pantas membawa harapan mereka ke masa depan?
Namun, bagi para pasangan calon, hari tenang bukan berarti tanpa gejolak. Di balik tirai senyap, ada doa-doa yang dipanjatkan dengan khidmat. Mereka berharap keyakinan rakyat berpihak pada mereka. “Hari tenang adalah hari keramat,” begitu kata orang-orang yang paham lika-liku politik. Di saat segala strategi telah dimainkan, yang tersisa hanyalah harapan, keikhlasan, dan mungkin, sedikit takdir yang tak terduga.
Di sudut lain, tim sukses paslon tak sepenuhnya tenang. Meski aturan melarang segala bentuk kampanye, suara-suara kecil tetap mengalir—kadang seperti bisikan angin, kadang seperti denting samar di malam sunyi. Semua berharap pesan terakhir mereka sampai ke hati pemilih tanpa melanggar etika demokrasi.
Masa tenang juga mengingatkan kita akan esensi demokrasi. Ini bukan hanya soal menang dan kalah. Ini adalah tentang kepercayaan rakyat, tentang tanggung jawab yang kelak akan dipikul oleh mereka yang terpilih. Hari-hari keramat ini adalah pengingat bahwa demokrasi sejati bukan diukur dari seberapa keras kita berteriak, melainkan seberapa tulus kita mendengar.
Pada akhirnya, masa tenang adalah cermin dari harapan rakyat Mesuji. Di tengah ketenangan ini, mereka memilih bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga penjaga mimpi-mimpi mereka. Dan pada 27 November nanti, suara-suara itu akan berbicara—menggemakan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Sebagaimana embun pagi yang menetes di daun, masa tenang adalah jeda singkat sebelum matahari demokrasi kembali terbit, menyinari langkah-langkah baru Bumi Ragab Begawe Caram. Mari jaga bersama masa tenang ini dengan penuh kedewasaan dan rasa hormat. Sebab, di sanalah inti dari demokrasi itu sendiri.
Mesuji, Ruang Gelap 25 November 2024
Udin Komarudin
Ketua DPD Jurnalis Nasional Indonesia