
MESUJI– Mesuji, tanah subur nan penuh harapan, kini berada di ambang sejarah baru. Besok, 27 November 2024, rakyat Mesuji akan menentukan siapa pemimpin yang layak membawa obor perubahan. Namun, di balik riuh rendah suara kampanye, pandangan seorang bocah indigo mencuat, membawa nuansa magis dan misteri dalam perjalanan Pilkada ini. Selasa [26/11/24].
Dengan tatapan mata yang menyiratkan kedalaman jiwa, bocah indigo ini – seorang anak dari salah satu pelosok desa di Mesuji – memaparkan pandangannya. “Getaran-getaran ini kuat sekali,” ucapnya dengan bahasa yang campur-campur, seolah menyatu dengan roh-roh masa depan.
Menurutnya, dari empat pasangan calon, getaran energi paling kuat terasa pada nomor urut 2 El-Gi. Ia menggambarkan pasangan ini sebagai sosok yang memiliki tekad besar dan dikelilingi aura kepemimpinan yang menyala terang. “Nye sinyal kuat, sepertinya pengaruh mereka paling jauh merasuk ke hati rakyat,” katanya pelan, namun penuh keyakinan.
Di posisi kedua, ia menyebut nomor urut 3 Edi-Tri. Meski tak sekuat nomor 2, pasangan ini memiliki daya tarik tersendiri. “Mereka ini lebih terstruktur. Aura mereka stabil, tapi belum cukup untuk menyaingi nomor 2,” lanjut bocah itu.
Kemudian, giliran nomor urut 4 Prapto-Fuad yang ia bahas. “Mereka seperti pohon besar, namun akarnya belum terlalu dalam. Ada kekuatan, tapi terhalang sesuatu. Energinya tidak sepenuhnya tersalur.”
Terakhir, bocah ini menempatkan nomor urut 1 Syamsudin-Yulivan di posisi paling lemah. “Mereka seperti bayangan di tengah kabut, sulit terlihat jelas. Getarannya samar, bahkan nyaris menghilang,” ujarnya sambil menatap jauh ke kejauhan.
Tak ada yang tahu pasti dari mana bocah ini mendapat kemampuannya. Namun, di tengah hiruk pikuk politik, kata-katanya menjadi renungan tersendiri bagi masyarakat Mesuji. Apa yang ia ungkapkan hanyalah satu dari sekian banyak perspektif, namun kehadirannya membawa warna berbeda dalam cerita Pilkada tahun ini.
Besok, rakyat Mesuji akan menentukan pilihan. Apakah getaran yang dirasakan bocah indigo ini akan terbukti benar? Ataukah hasil akhir justru melawan arus energi yang ia rasakan?
Hanya waktu yang akan menjawab. Namun, satu hal pasti: Mesuji telah membuktikan bahwa ia bukan sekadar tanah air politik, tapi juga ruang bagi narasi unik dan penuh kejutan.
“Kita milih pemimpin bukan cuma lihat janji, tapi juga rasa. Nye pasti besoklah, rakyat yang tentuin,” tutup bocah itu dengan senyum tipis, seolah menyiratkan akhir yang telah ia lihat, namun enggan ia bagikan. [Red]