
HUKUM– Mesuji, Lampung, kembali menjadi sorotan publik setelah delapan desa di wilayah ini dengan tegas menolak perpanjangan Hak Guna Usaha (HGU) PT Panca Agra Lestari (PAL). Sikap masyarakat ini mencerminkan kegerahan yang telah berlangsung lama dan menjadi momentum penting bagi suara lokal untuk didengar dalam pengelolaan sumber daya alam.
Penolakan ini bukan hanya perwujudan dari ketidakpuasan masyarakat terkait manfaat langsung yang mereka rasakan, tetapi juga cerminan dari aspirasi akan pengelolaan yang lebih berkelanjutan dan mengedepankan kepentingan lokal. Banyak di antara mereka yang merasa bahwa kehadiran perusahaan belum sepenuhnya memberi dampak positif yang signifikan, baik dari segi ekonomi maupun lingkungan.
Dalam konteks ini, pemerintah dan PT PAL memiliki peran krusial untuk melakukan introspeksi. Bagaimana bisa sebuah hubungan yang seharusnya saling menguntungkan berubah menjadi penolakan terbuka? Dialog terbuka dan inklusif diperlukan untuk mencapai titik temu antara kepentingan korporasi dan kebutuhan masyarakat lokal. Transparansi dalam manajemen serta keberpihakan pada solusi yang berkelanjutan adalah kunci utama dalam menyelesaikan konflik ini.
Di sisi lain, penolakan ini bisa menjadi peluang bagi pemerintah daerah untuk merumuskan kebijakan agraria dan pengelolaan lahan yang lebih berpihak pada masyarakat. Inovasi dalam pemanfaatan lahan, pendampingan dalam pertanian berkelanjutan, dan pengembangan ekonomi lokal berbasis sumber daya bisa menjadi alternatif yang menarik dan mendukung kesejahteraan jangka panjang.
Bagi masyarakat, ini adalah momen untuk memperkuat kapasitas dan kerjasama dalam mengadvokasi aspirasi mereka. Kemampuan untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan adalah modal berharga demi memastikan bahwa kontribusi mereka terhadap ekonomi lokal diakui dan dihargai.
Ke depannya, harmonisasi antara pengembangan ekonomi dan pelestarian lingkungan serta sosial harus menjadi prioritas. Semoga interaksi antara semua pihak terkait ini dapat menghasilkan solusi holistik yang tidak hanya menjawab persoalan saat ini, tetapi juga memberi harapan untuk Mesuji yang lebih baik.
Mesuji, 11 Oktober 2024
CHEUDIN
Jurnalis Nasional Indonesia