
BISNIS– Pernyataan mendiang fisikawan ternama, Stephen Hawking, bahwa “Bukan robot yang menjadi musuh kita, tapi kapitalisme,” mengungkap pandangan tajam tentang masa depan dunia kerja dan ekonomi di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Hawking tidak pernah menyangkal manfaat dari robotika dan kecerdasan buatan (AI) yang mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas di berbagai sektor. Namun, yang beliau soroti adalah sistem ekonomi yang mendistribusikan keuntungan dari kemajuan teknologi tersebut secara tidak merata. Kapitalisme, dengan dorongan utamanya untuk memaksimalkan keuntungan, kerap mengorbankan kesejahteraan pekerja dan memperlebar jurang ketimpangan ekonomi.
Seiring dengan berkembangnya teknologi otomatisasi, pekerjaan manusia digantikan oleh mesin dan robot. Ini bukanlah masalah jika keuntungan dari teknologi dialokasikan secara adil—misalnya melalui upah layak, program jaminan sosial, atau pendidikan ulang pekerja yang terdampak. Namun dalam sistem kapitalisme saat ini, hasil dari produktivitas cenderung terkonsentrasi di tangan segelintir elit ekonomi.
Stephen Hawking memperingatkan, jika ketimpangan ini tidak dikendalikan, teknologi yang seharusnya membawa kemakmuran justru bisa memicu krisis sosial dan ekonomi. Robot dan AI bukanlah “musuh,” melainkan instrumen. Musuh sebenarnya adalah sistem yang tidak mampu memastikan manfaat teknologi dinikmati oleh semua orang.
Dengan demikian, solusi yang dibutuhkan bukanlah menghentikan kemajuan teknologi, melainkan mereformasi sistem ekonomi agar lebih berkeadilan. Para pemimpin dunia, pembuat kebijakan, dan masyarakat perlu membahas bagaimana kekayaan yang dihasilkan oleh teknologi dapat dibagikan dengan cara yang lebih merata dan berkelanjutan.
Stephen Hawking telah memberi kita sebuah pengingat: masa depan tidak ditentukan oleh mesin, tetapi oleh keputusan manusia dalam mengatur ekonomi yang lebih inklusif dan adil.
Mesuji, 14 Desember 2024
Redaksi Satu
Jurnalis Nasional Indonesia