
OPINI– Setiap hari, di setiap sudut dunia, manusia berperang. Bukan hanya melawan sesama, tetapi juga melawan alam, makhluk hidup lain, dan bahkan dirinya sendiri. Mengapa? Karena sifat egois yang mendarah daging.
Egoisme adalah penyakit bawaan manusia, yang perlahan namun pasti terus menggerogoti harmoni kehidupan. Ketika kepentingan pribadi diprioritaskan di atas segalanya, manusia menjadi agen perusak. Contohnya nyata di mana-mana: perusakan lingkungan demi keuntungan ekonomi, konflik antarbangsa demi kekuasaan, bahkan hubungan antarindividu yang rusak karena keinginan mendominasi.
Yang mengkhawatirkan, sifat ini bukan hanya menjadi masalah pribadi, melainkan sistemik. Kapitalisme yang mendorong konsumerisme tanpa batas, polarisasi politik yang memperkuat ego kelompok, hingga teknologi yang lebih sering digunakan untuk memuaskan keserakahan dibandingkan menyelesaikan masalah.
Ironisnya, manusia sering menganggap dirinya penyelamat peradaban, pencipta kemajuan. Namun, bukankah seharusnya kita bertanya, kemajuan untuk siapa? Ketika kita memusnahkan hutan untuk membangun gedung, meracuni udara dengan asap kendaraan, atau menguasai lautan demi eksploitasi, kita sebenarnya bukan sedang maju, tetapi mundur.
Mungkin sudah saatnya manusia berhenti sejenak dan bercermin. Apakah kita ingin terus menjadi penyakit yang menyerang kehidupan, atau bertransformasi menjadi bagian dari penyembuhan dunia? Jawaban itu ada pada kita semua—dalam keberanian untuk mengalahkan ego kita sendiri.
Mari kita berpikir, bertindak, dan hidup dengan lebih bijak. Karena, jika terus dibiarkan, penyakit ini hanya akan membawa kita pada kehancuran total.
Mesuji, 14 Desember 2024
Udin Komarudin
Jurnalis Nasional Indonesia