Komisioner Bawaslu Wahyu Eko Prasetiyo Klarifikasi Dugaan Keberpihakan kepada Paslon Pilkada Mesuji

Komisioner  Bawaslu Wahyu Eko Pengawasan Turunkan APK

MESUJI – Komisioner Bawaslu Kabupaten Mesuji, Wahyu Eko Prasetiyo memberikan tanggapan terkait pemberitaan di sejumlah media online yang menyebut dirinya melanggar kode etik karena diduga berpihak kepada salah satu pasangan calon (paslon) dalam Pilkada Mesuji 2024. Pemberitaan tersebut menyebutkan bahwa Wahyu Eko Prasetiyo terlihat berada di posko salah satu paslon, sehingga memunculkan dugaan keberpihakan. Selasa[26 /11/24]

Dalam klarifikasinya, Wahyu Eko Prasetiyo menegaskan bahwa kehadirannya di lokasi tersebut adalah dalam kapasitas tugasnya sebagai pengawas pemilu. “Saya ingin meluruskan informasi yang beredar. Kehadiran saya di lokasi salah satu paslon bukanlah bentuk keberpihakan, melainkan bagian dari tugas Bawaslu untuk menginventarisir dan menghimbau pelepasan Alat Peraga Kampanye (APK) yang masih terpasang pasca berakhirnya masa kampanye,” ujar Wahyu Eko.

Ia juga menekankan bahwa tindakan tersebut sesuai dengan tanggung jawab Bawaslu dalam memastikan netralitas dan ketertiban selama pelaksanaan Pilkada. “Kami terus berupaya menjalankan tugas secara profesional dan netral sesuai dengan aturan yang berlaku. Tidak ada niat atau tindakan yang mengarah pada keberpihakan terhadap paslon tertentu,” tegasnya.

Wahyu Eko Prasetiyo menyayangkan adanya pemberitaan yang dinilai tidak berdasar dan berpotensi menimbulkan persepsi negatif terhadap institusi Bawaslu. Ia mengajak semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.

“Kami di Bawaslu tetap berkomitmen menjaga integritas dan transparansi dalam menjalankan tugas. Jika ada pihak yang merasa keberatan atau memiliki bukti kuat mengenai dugaan pelanggaran kode etik, silakan menempuh jalur yang telah disediakan oleh DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu),” tambahnya.

Pihak Bawaslu Mesuji juga terus mengimbau kepada seluruh paslon dan tim sukses untuk mematuhi aturan yang berlaku selama masa tenang hingga pemungutan suara berlangsung. Hal ini penting demi menjaga kondusivitas Pilkada Mesuji 2024.

Dengan klarifikasi ini, Wahyu Eko Prasetiyo berharap masyarakat dapat memahami konteks sebenarnya dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang belum tentu benar. [007]

Pandangan Publik Terhadap Transparansi Dana Kampanye Pilbup Mesuji 2024

Sketsa gambar

MESUJI– Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Mesuji baru saja mengumumkan hasil penerimaan laporan penerimaan dan pengeluaran dana kampanye (LPPDK) Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Mesuji Tahun 2024. Pengumuman ini menarik perhatian masyarakat, terutama terkait transparansi dan akuntabilitas para pasangan calon dalam pengelolaan dana kampanye mereka. Selasa [26/11/24]

Sebagai salah satu elemen penting dalam proses demokrasi, laporan dana kampanye menjadi indikator integritas dan kepatuhan kandidat terhadap regulasi pemilu. Dalam laporan tersebut, masyarakat dapat mengetahui sejauh mana pasangan calon mematuhi aturan mengenai penerimaan, sumber dana, hingga pengeluarannya.

Sejumlah warga menyambut positif langkah KPU yang membuka hasil laporan ini secara transparan. “Ini langkah baik untuk mendorong kepercayaan publik terhadap proses pilkada. Kami jadi tahu bagaimana pasangan calon mengelola dana kampanye mereka,” ujar Suryadi, warga Kecamatan Simpang Pematang.

Namun, ada pula pandangan kritis dari masyarakat yang menyoroti potensi celah dalam pengawasan dana kampanye. “Masyarakat perlu dilibatkan lebih aktif dalam mengawasi sumber dana kampanye agar tidak ada kecurigaan terkait penyalahgunaan atau adanya dana ilegal,” ungkap Fatimah, pegiat demokrasi di Mesuji.

Pengamat politik lokal, Dr. Arif Budiman, menilai pengumuman ini sebagai momen penting untuk memperkuat budaya politik bersih di Mesuji. “Keteladanan para kandidat dalam mengelola dana kampanye yang transparan dan sesuai aturan akan menjadi cerminan kualitas kepemimpinan mereka di masa depan,” jelasnya.

KPU Mesuji mengimbau masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam memantau dan memberikan masukan terkait laporan tersebut. Dengan begitu, pengawasan terhadap penggunaan dana kampanye tidak hanya dilakukan oleh pihak penyelenggara, tetapi juga oleh publik secara luas.

Pengumuman hasil laporan dana kampanye ini diharapkan menjadi langkah awal menuju penyelenggaraan Pilkada Mesuji 2024 yang bersih, adil, dan bermartabat. Publik kini menantikan tindak lanjut dari laporan ini, termasuk audit yang memastikan semua pasangan calon mematuhi ketentuan yang berlaku. [007]

Pandangan Masyarakat Terkait Kecaman Apri Susanto terhadap Komite SMA 1 Way Serdang

Sketsa Gambar

MESUJI, WAY SERDANG – Pernyataan tegas yang disampaikan oleh Apri Susanto, SH, terkait dugaan praktik yang tidak transparan dalam pengelolaan dana oleh Komite SMA 1 Way Serdang memicu diskusi hangat di kalangan masyarakat. Dalam keterangannya yang dipublikasikan melalui sebuah media lokal, Apri mengecam keras dugaan adanya pelanggaran prinsip akuntabilitas yang dilakukan oleh pihak komite sekolah tersebut. Selasa [26/11/24]

Sejumlah masyarakat menyambut baik langkah Apri Susanto yang dinilai berani mengangkat isu ini ke ruang publik. “Kami sebagai orang tua murid tentu mendukung adanya transparansi dalam penggunaan dana. Kalau benar ada pelanggaran, maka harus diusut tuntas,” ujar salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya.

Pandangan serupa diungkapkan oleh seorang tokoh masyarakat Way Serdang yang menilai pengelolaan dana pendidikan harus bebas dari praktik manipulasi. “Komite sekolah semestinya menjadi mitra yang baik untuk meningkatkan mutu pendidikan, bukan malah menimbulkan kecurigaan. Ini perlu diselesaikan dengan bijaksana demi kebaikan bersama,” tuturnya.

Namun, tidak sedikit pula yang berharap agar tuduhan ini diinvestigasi lebih lanjut untuk memastikan tidak ada kesalahpahaman. “Kami perlu mendengar klarifikasi dari pihak sekolah dan komite. Jangan sampai masalah ini hanya menjadi ajang saling tuduh tanpa bukti yang jelas,” ujar salah satu warga.

Sementara itu, beberapa siswa turut menyuarakan harapan mereka agar polemik ini tidak mengganggu proses belajar-mengajar di sekolah. “Kami ingin fokus belajar tanpa harus mendengar kabar-kabar seperti ini. Semoga cepat selesai dan tidak berlarut-larut,” kata salah seorang siswa.

Apri Susanto sendiri mendesak pihak terkait, termasuk Dinas Pendidikan dan Inspektorat, untuk segera turun tangan menyelidiki masalah ini. “Kami tidak ingin ada pihak-pihak yang dirugikan, baik itu orang tua murid maupun siswa. Jika terbukti ada pelanggaran, harus ada sanksi tegas,” tegas Apri dalam pernyataannya.

Kasus ini menjadi perhatian publik karena menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan pendidikan di tingkat lokal. Masyarakat berharap penyelesaian masalah ini dilakukan secara transparan dan profesional agar tidak mencederai semangat gotong royong dalam memajukan dunia pendidikan. [007]

Pandangan Masyarakat Terkait Dugaan Serangan Uang Menjelang H-2 Pencoblosan Pilkada Mesuji

Sketsa Gambar Praktik Politik Uang


MESUJI, LAMPUNG – Jelang hari pencoblosan Pilkada Mesuji, dugaan praktik politik uang kembali mencuat. Laporan yang diterbitkan oleh Sumatera News menyebutkan adanya indikasi bahwa masyarakat “diserang uang” untuk memengaruhi pilihan politik mereka. Fenomena ini menimbulkan beragam reaksi di tengah masyarakat Mesuji, baik dari kalangan akademisi, tokoh agama, hingga warga biasa. Selasa [26/11/24]

Sejumlah masyarakat mengungkapkan keresahan terhadap praktik ini, karena dianggap menciderai nilai-nilai demokrasi yang sejatinya mengedepankan kebebasan memilih berdasarkan visi, misi, dan rekam jejak calon. “Kalau pemimpin dipilih karena uang, bagaimana kita bisa berharap pada kebijakannya nanti?” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Senada dengan itu, seorang tokoh agama di Mesuji menyebut praktik semacam ini berpotensi merusak moral masyarakat, khususnya generasi muda. “Politik uang memberikan contoh buruk kepada generasi berikutnya. Bagaimana kita mendidik mereka menghargai kejujuran jika sejak awal prosesnya sudah tercoreng oleh materi?” tegasnya.

Namun, ada pula masyarakat yang mengaku terpaksa menerima uang tersebut karena himpitan ekonomi. Mereka beralasan uang tersebut hanya dianggap sebagai “pengganti waktu,” meski mereka tetap akan memilih sesuai hati nurani. “Kadang kita sulit menolak, tapi bukan berarti pilihan kami bisa dibeli,” ungkap salah satu warga.

Berbagai pihak pun mendesak Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Mesuji untuk bertindak tegas. Akademisi dari salah satu universitas di Lampung menilai, Bawaslu harus mampu memberikan sanksi kepada pelaku politik uang untuk menjaga integritas Pilkada. “Tindakan tegas akan memberikan efek jera dan memastikan Pilkada berjalan sesuai aturan,” ujar akademisi tersebut.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai laporan dugaan serangan uang ini. Bawaslu diharapkan segera merespons dengan langkah konkret untuk mengusut dan mencegah meluasnya praktik tidak etis ini.

Pilkada yang bersih dan adil menjadi harapan seluruh masyarakat Mesuji agar menghasilkan pemimpin yang benar-benar kompeten dan berintegritas. Untuk itu, masyarakat diminta tetap menjaga independensi serta tidak terpengaruh oleh iming-iming materi demi masa depan daerah yang lebih baik. [Red]

Getaran Indigo: Menelusuri Pilkada Mesuji Lewat Mata Bocah Berbakat

Sketsa Gambar Pilkada Mesuji Lewat Mata Bocah Indigo

MESUJI– Mesuji, tanah subur nan penuh harapan, kini berada di ambang sejarah baru. Besok, 27 November 2024, rakyat Mesuji akan menentukan siapa pemimpin yang layak membawa obor perubahan. Namun, di balik riuh rendah suara kampanye, pandangan seorang bocah indigo mencuat, membawa nuansa magis dan misteri dalam perjalanan Pilkada ini. Selasa [26/11/24].

Dengan tatapan mata yang menyiratkan kedalaman jiwa, bocah indigo ini – seorang anak dari salah satu pelosok desa di Mesuji – memaparkan pandangannya. “Getaran-getaran ini kuat sekali,” ucapnya dengan bahasa yang campur-campur, seolah menyatu dengan roh-roh masa depan.

Menurutnya, dari empat pasangan calon, getaran energi paling kuat terasa pada nomor urut 2 El-Gi. Ia menggambarkan pasangan ini sebagai sosok yang memiliki tekad besar dan dikelilingi aura kepemimpinan yang menyala terang. “Nye sinyal kuat, sepertinya pengaruh mereka paling jauh merasuk ke hati rakyat,” katanya pelan, namun penuh keyakinan.

Di posisi kedua, ia menyebut nomor urut 3 Edi-Tri. Meski tak sekuat nomor 2, pasangan ini memiliki daya tarik tersendiri. “Mereka ini lebih terstruktur. Aura mereka stabil, tapi belum cukup untuk menyaingi nomor 2,” lanjut bocah itu.

Kemudian, giliran nomor urut 4 Prapto-Fuad yang ia bahas. “Mereka seperti pohon besar, namun akarnya belum terlalu dalam. Ada kekuatan, tapi terhalang sesuatu. Energinya tidak sepenuhnya tersalur.”

Terakhir, bocah ini menempatkan nomor urut 1 Syamsudin-Yulivan di posisi paling lemah. “Mereka seperti bayangan di tengah kabut, sulit terlihat jelas. Getarannya samar, bahkan nyaris menghilang,” ujarnya sambil menatap jauh ke kejauhan.

Tak ada yang tahu pasti dari mana bocah ini mendapat kemampuannya. Namun, di tengah hiruk pikuk politik, kata-katanya menjadi renungan tersendiri bagi masyarakat Mesuji. Apa yang ia ungkapkan hanyalah satu dari sekian banyak perspektif, namun kehadirannya membawa warna berbeda dalam cerita Pilkada tahun ini.

Besok, rakyat Mesuji akan menentukan pilihan. Apakah getaran yang dirasakan bocah indigo ini akan terbukti benar? Ataukah hasil akhir justru melawan arus energi yang ia rasakan?

Hanya waktu yang akan menjawab. Namun, satu hal pasti: Mesuji telah membuktikan bahwa ia bukan sekadar tanah air politik, tapi juga ruang bagi narasi unik dan penuh kejutan.

“Kita milih pemimpin bukan cuma lihat janji, tapi juga rasa. Nye pasti besoklah, rakyat yang tentuin,” tutup bocah itu dengan senyum tipis, seolah menyiratkan akhir yang telah ia lihat, namun enggan ia bagikan. [Red]

Hari Tenang, Hari Keramat di Bumi Mesuji

Sketsa Kabupaten Mesuji

POLITIK- Mesuji, tanah yang menyimpan sejuta cerita. Kini, ia memasuki babak baru dalam perjalanan demokrasinya. Masa tenang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bupati dan Wakil Bupati Mesuji telah tiba, menyisakan jeda di antara riuh gemuruh kampanye dan ketegangan menjelang pemungutan suara pada 27 November. Masa tenang, begitu orang-orang menyebutnya. Namun bagi para politikus dan pasangan calon, ia lebih dari sekadar waktu diam. Ia adalah hari keramat.

Bagi rakyat Mesuji, masa ini seolah menjadi momen kontemplasi, saat mereka merenung di tengah ketenangan yang penuh makna. Ini adalah waktu ketika janji-janji kampanye yang menggema di udara diuji dalam batin mereka. Mereka menimbang, memilih, dan memutuskan: siapakah yang pantas membawa harapan mereka ke masa depan?

Namun, bagi para pasangan calon, hari tenang bukan berarti tanpa gejolak. Di balik tirai senyap, ada doa-doa yang dipanjatkan dengan khidmat. Mereka berharap keyakinan rakyat berpihak pada mereka. “Hari tenang adalah hari keramat,” begitu kata orang-orang yang paham lika-liku politik. Di saat segala strategi telah dimainkan, yang tersisa hanyalah harapan, keikhlasan, dan mungkin, sedikit takdir yang tak terduga.

Di sudut lain, tim sukses paslon tak sepenuhnya tenang. Meski aturan melarang segala bentuk kampanye, suara-suara kecil tetap mengalir—kadang seperti bisikan angin, kadang seperti denting samar di malam sunyi. Semua berharap pesan terakhir mereka sampai ke hati pemilih tanpa melanggar etika demokrasi.

Masa tenang juga mengingatkan kita akan esensi demokrasi. Ini bukan hanya soal menang dan kalah. Ini adalah tentang kepercayaan rakyat, tentang tanggung jawab yang kelak akan dipikul oleh mereka yang terpilih. Hari-hari keramat ini adalah pengingat bahwa demokrasi sejati bukan diukur dari seberapa keras kita berteriak, melainkan seberapa tulus kita mendengar.

Pada akhirnya, masa tenang adalah cermin dari harapan rakyat Mesuji. Di tengah ketenangan ini, mereka memilih bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga penjaga mimpi-mimpi mereka. Dan pada 27 November nanti, suara-suara itu akan berbicara—menggemakan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Sebagaimana embun pagi yang menetes di daun, masa tenang adalah jeda singkat sebelum matahari demokrasi kembali terbit, menyinari langkah-langkah baru Bumi Ragab Begawe Caram. Mari jaga bersama masa tenang ini dengan penuh kedewasaan dan rasa hormat. Sebab, di sanalah inti dari demokrasi itu sendiri.




Mesuji, Ruang Gelap 25 November 2024

Udin Komarudin
Ketua DPD Jurnalis Nasional Indonesia

Antusiasme Warga Desa Sidomulyo Meningkat di Akhir Masa Kampanye

Kampanye Edi-Tri Nomer Urut 03

MESUJI – Menjelang berakhirnya masa kampanye Pilkada Mesuji 2024, Desa Sidomulyo mencatatkan rekor kehadiran warga yang luar biasa. Sekitar 2.500 warga dari berbagai lapisan masyarakat hadir dalam acara kampanye yang digelar pada hari terakhir masa kampanye. Sabtu [23/11/24]

Kehadiran yang begitu besar mencerminkan tingginya antusiasme warga dalam menentukan calon pemimpin yang akan memimpin Mesuji ke depan. Berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat hingga pemuda, turut meramaikan acara ini, menunjukkan komitmen mereka dalam menyukseskan proses demokrasi yang tengah berlangsung.

“Kami merasa sangat senang bisa melihat semangat warga Sidomulyo yang begitu tinggi. Ini menunjukkan betapa besarnya perhatian masyarakat terhadap jalannya Pilkada. Semoga, kehadiran dan partisipasi aktif ini bisa memberikan dampak positif dalam menentukan pemimpin yang terbaik,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.

Kampanye di Desa Sidomulyo berlangsung penuh semangat, dengan penyampaian visi misi dari calon-calon yang ikut serta. Para warga yang hadir memberikan perhatian penuh, mendengarkan dengan seksama dan mengajukan berbagai pertanyaan yang relevan mengenai program yang ditawarkan oleh masing-masing calon.

Dengan jumlah peserta yang begitu besar, kampanye di Desa Sidomulyo menjadi salah satu sorotan penting di akhir masa kampanye ini, dan menunjukkan bahwa semangat demokrasi di Mesuji semakin kuat.

Sebagai penutup, warga Sidomulyo diingatkan untuk tetap menjaga kedamaian dan ketertiban dalam menyambut hari pencoblosan yang akan datang. “Kami berharap semua warga dapat menjaga suasana kondusif, sehingga Pilkada berjalan lancar dan menghasilkan pemimpin yang dapat membawa perubahan positif bagi Mesuji,” ungkap salah satu warga.

Dengan semangat yang tercermin dari partisipasi aktif warga, Desa Sidomulyo siap menyambut Pemilu 2024 dengan harapan dan optimisme tinggi. [Tim 007]

Ramalan Bocah Indigo Terbaru di Penghujung Pilkada Mesuji: Paslon 02 Berpotensi Unggul?

Sketsa Ramalan Bocah Indigo

MESUJI – Menjelang detik-detik terakhir Pilkada Mesuji 2024, ramalan bocah indigo kembali menjadi perhatian publik. Kali ini, ia memprediksi peluang besar yang dimiliki salah satu pasangan calon (Paslon) untuk memenangkan pemilihan. Berdasarkan energi yang terpantau dari dinamika kampanye terakhir, Paslon 02 disebut-sebut memiliki momentum kuat untuk unggul.

Kampanye akbar Paslon 02 yang digelar Sabtu (23/11) berhasil menyedot perhatian ribuan warga Mesuji. Dukungan yang melimpah, antusiasme massa, dan eksekusi kampanye yang spektakuler dinilai menjadi indikator penting yang mencerminkan kekuatan Paslon ini. Sebaliknya, tiga pasangan calon lainnya justru gagal melaksanakan agenda serupa di hari terakhir, memunculkan spekulasi mengenai kesiapan mereka.

Menurut bocah indigo, kampanye akbar tersebut membawa gelombang energi positif yang signifikan bagi Paslon 02. “Ada sinyal kuat dari dukungan publik yang meluap pada kampanye ini. Energi seperti ini bisa menjadi titik balik yang menentukan hasil pemilu,” ujarnya.

Bocah indigo menilai keberhasilan Paslon 02 dalam menggelar kampanye besar ini tidak hanya menunjukkan kekuatan logistik dan strategi, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap visi yang mereka tawarkan. Momentum ini, menurutnya, bisa menjadi faktor krusial untuk mendorong elektabilitas mereka menjelang hari pemungutan suara.

Di sisi lain, batalnya agenda kampanye besar dari tiga pasangan calon lainnya justru menjadi sorotan. Publik mempertanyakan alasan di balik ketidakhadiran kampanye besar tersebut, yang dinilai melemahkan posisi mereka dalam merebut perhatian pemilih di momen-momen terakhir.

Namun, prediksi bocah indigo ini juga disertai catatan penting. Paslon 02 masih harus bekerja keras untuk mengamankan suara di tingkat akar rumput dan tempat pemungutan suara (TPS). Gelombang dukungan yang terlihat harus segera dikonsolidasikan agar tidak kehilangan momentum.

Pilkada yang Damai dan Demokratis

Menjelang hari pemungutan suara, bocah indigo juga mengingatkan pentingnya menjaga proses Pilkada tetap damai dan demokratis. “Siapapun yang terpilih, harapan kita bersama adalah agar mereka mampu membawa perubahan positif untuk seluruh masyarakat Mesuji,” tegasnya.

Tentang Pilkada Mesuji 2024

Pilkada Mesuji 2024 diikuti oleh empat pasangan calon, masing-masing menawarkan program dan visi untuk memimpin daerah ini ke arah yang lebih baik. Hari pemungutan suara tinggal menghitung hari, di mana masyarakat Mesuji akan menentukan masa depan mereka melalui hak pilih.

Prediksi bocah indigo ini, meski menarik perhatian, tetap menjadi bagian dari dinamika Pilkada yang penuh kejutan. Siapakah yang akan keluar sebagai pemimpin baru Mesuji? Jawabannya akan segera terungkap. [Red]

Kekurangan Kotak dan Surat Suara di Gudang Logistik Mesuji, Warga Khawatirkan Intrik Kecurangan

Sketsa Gambar

MESUJI– Penemuan kekurangan kotak dan surat suara di gudang logistik Mesuji oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Lampung menuai reaksi beragam dari masyarakat. Kekhawatiran terhadap potensi intrik kecurangan dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Mesuji semakin menguat seiring mencuatnya kabar ini. Jumat[22/11/24]


Dalam pemberitaan sebelumnya, Bawaslu mengungkapkan adanya kekurangan kotak dan surat suara di gudang logistik yang telah diawasi selama beberapa waktu. Meski demikian, pihak terkait belum memberikan pernyataan resmi mengenai langkah penanganan atas temuan tersebut.

“Ini masalah serius. Kekurangan kotak dan surat suara bisa berdampak langsung pada kredibilitas Pilkada. Jangan sampai ada yang mencoba mengambil celah untuk melakukan kecurangan,” ujar Roni (35), salah satu warga Desa Simpang Pematang.

Kekhawatiran senada disampaikan oleh Siti (40), warga Brabasan, yang merasa bahwa temuan ini bisa mencoreng demokrasi di Mesuji. “Kami hanya ingin Pilkada berjalan jujur dan adil. Jangan sampai kekurangan logistik menjadi alasan terjadinya kecurangan atau manipulasi suara,” ungkapnya.

Bawaslu sendiri berjanji akan terus memantau dan mengawal proses distribusi logistik pemilu guna memastikan tidak ada hambatan atau kejanggalan yang dapat mengganggu jalannya pesta demokrasi. Ketua Bawaslu Mesuji, dalam keterangannya, mengimbau semua pihak untuk tetap tenang dan menunggu hasil investigasi lebih lanjut.

“Kami telah merekomendasikan langkah-langkah perbaikan kepada pihak penyelenggara pemilu. Selain itu, pengawasan di gudang logistik akan diperketat untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.

Namun, masyarakat berharap transparansi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam mengatasi persoalan ini. Pasalnya, jika tidak segera ditindaklanjuti dengan langkah konkret, isu ini berpotensi menjadi pemantik ketidakpercayaan publik terhadap hasil Pilkada.

“Transparansi adalah kunci. Jika ada yang kurang, segera dijelaskan kepada publik. Jangan sampai masyarakat menduga-duga adanya permainan di belakang layar,” kata Firdaus, seorang tokoh pemuda di Mesuji.

Mendekati hari pemungutan suara, situasi ini menjadi ujian besar bagi integritas penyelenggara pemilu. Publik menantikan solusi cepat dan tegas agar hak pilih mereka tetap terjaga tanpa ada gangguan yang merugikan proses demokrasi. [Red]

Ketika Semua Orang Ingin Disebut Pahlawan

Sketsa Hero

SOSIAL– Dalam kehidupan sehari-hari, istilah “pahlawan” sering kali terdengar—baik dalam konteks politik, sosial, maupun budaya. Namun, apakah semua orang yang menginginkan predikat itu benar-benar pantas menyandangnya?

Seiring berjalannya waktu, makna kata “pahlawan” cenderung melebar hingga kehilangan esensinya. Sebagian orang merasa cukup melakukan aksi seremonial untuk disebut pahlawan, sementara yang lain bahkan berusaha mengklaim peran itu demi citra atau kepentingan tertentu.

Hari ini, media dan ruang publik penuh dengan narasi heroisme. Seorang pemimpin dianggap pahlawan karena membangun fasilitas publik, meskipun itu memang kewajibannya. Pejabat digambarkan sebagai pahlawan karena turun langsung ke lapangan, walau hanya dalam momentum tertentu. Tidak sedikit pula figur yang memanfaatkan isu kemanusiaan untuk meraih simpati, tanpa benar-benar memberikan dampak nyata.

Menilai Keaslian Kepahlawanan
Sejatinya, pahlawan bukanlah mereka yang bekerja dengan pamrih atau demi sorotan. Pahlawan adalah sosok yang rela berkorban demi kemaslahatan bersama tanpa memikirkan pujian. Sayangnya, nilai ini sering terdistorsi dalam era media sosial. Sekali unggahan “aksi heroik” dapat membawa seseorang pada glorifikasi instan.

Ini menjadi alarm bagi masyarakat. Jangan sampai penghargaan kepada pahlawan sejati justru tenggelam dalam hiruk-pikuk pencitraan. Kita perlu belajar menilai ketulusan dari aksi yang dilakukan, bukan sekadar dari narasi yang dibuat.

Pahlawan di Kehidupan Sehari-Hari
Pahlawan sejati tidak selalu berada di panggung besar. Mereka mungkin adalah seorang guru yang dengan tekun mendidik generasi bangsa, petani yang menyediakan kebutuhan pangan, atau bahkan relawan yang bekerja di tempat-tempat krisis tanpa publikasi. Kepahlawanan sejati lahir dari konsistensi, ketulusan, dan keberanian menghadapi tantangan, bukan dari keinginan untuk diakui.

Sebagai masyarakat, tugas kita adalah menghormati pahlawan tanpa pamrih, sekaligus tidak terjebak dalam glorifikasi semu. Jangan mudah terpukau oleh label, melainkan cermati dampaknya bagi orang banyak.

Pada akhirnya, pahlawan bukanlah soal siapa yang ingin disebut, melainkan siapa yang benar-benar memberi perubahan nyata bagi dunia di sekitarnya. Mari kita terus belajar menjadi pahlawan dalam versi terbaik kita—tanpa harus mencari pengakuan.





Mesuji, 20 november 2024
Udin komarudin
Jurnalis Nasional Indonesia