Jurnalis Penjaga Suara

Jurnalis Nasional Indonesia


Di balik pena dan kamera,
ia berdiri di garis paling nyata,
bukan sekadar mencatat berita,
tapi mengawal harapan warga.

Langkahnya ringan, namun tegas,
menembus sunyi, menembus batas,
menyusun kata demi keadilan,
menyuarakan yang lama dibisukan.

Ia hadir bukan untuk dikenal,
tapi agar kebenaran tetap kekal.
Dari pelosok hingga ruang sidang,
suara rakyat ia bawa pulang.

Tak takut bayang kekuasaan,
tak tunduk pada tekanan.
Jurnalis—mata hati bangsa,
penjaga nurani, penggugah rasa.

>>>>Cheudin 007 <<<<

Hadiah Terindah di Usia Ayah

Cahaya Wulandari

Hari ini usiaku bertambah,
Namun yang paling terasa—bukan rambut yang memutih,
bukan langkah yang mulai lamban,
tapi betapa kau telah tumbuh… jadi perempuan sejati,
yang dulu kugendong, kini berjalan sejajar.

Ingatkah kau, Nak,
suatu masa tangan mungilmu menggenggam jari kasarku,
matamu penuh tanya, hatimu penuh dunia?
Kini kau menjelma bijak,
lebih kuat dari yang pernah Ayah bayangkan.

Di hari ulang tahun ini,
aku tak minta kado apa pun,
karena kau, Nak, adalah hadiah hidup paling sempurna.
Tawa dan cita-citamu—itulah pelita jiwaku.

Teruslah melangkah, meski jauh dari pangkuan,
doa Ayah akan selalu lebih cepat dari angin,
menyusup ke relung hidupmu,
menjadi pelindung saat malam terasa panjang.

Hari ini Ayah bertambah usia,
tapi juga bertambah syukur…
karena kau, anakku, tumbuh bukan sekadar besar—
kau tumbuh dengan cinta.


[Cheudin: Ayah yang Menua 10 Mei 2025]

Suara Pena, Suara Perjuangan

Di balik gemuruh berita yang kau kabarkan,
terdengar detak perjuangan yang tak henti.
Jari-jarimu menari di atas papan,
menuliskan kebenaran di tengah sunyi.

Kau bukan sekadar pelapor zaman,
kaulah penjaga nurani bangsa.
Di balik kata yang tajam dan terang,
tersimpan letih yang tak pernah dipaksa.

Buruh jurnalis, pejuang senyap,
yang gajinya tak sebanding dengan bahaya.
Di medan konflik, bencana, dan politik serap,
kaulah saksi yang membawa cahaya.

Pada 1 Mei ini, kami tak lupa,
akan hakmu yang kerap terabaikan.
Kebebasan pers bukan hanya kata,
tapi juga upah layak dan perlindungan.

Hidup buruh jurnalis, hidup yang berani!
Pena dan suara, senjata abadi.
Di jalan panjang keadilan ini,
namamu tercatat dalam sejarah negeri.

(Untuk Kaum Buruh Jurnalis di Hari Buruh Nasional 2025)

Pemilik Kedai Tanpa Nama di Alun-Alun Simpang Pematang Gagalkan Aksi Pencurian Dini Hari, Diduga Masih Komplotan yang Sama

Diduga Satu Komplotan Maling

MESUJI– Pemilik Kedai Tanpa Nama di Alun-Alun Simpang Pematang, Udin, berhasil menggagalkan aksi pencurian dini hari tadi, sekitar pukul 02.00 WIB. Diduga, pelaku merupakan bagian dari komplotan maling yang selama ini membuat resah para pemilik usaha di kawasan tersebut. Kamis [19/12/24]

Udin menyebutkan bahwa ini adalah ketiga kalinya kedainya menjadi sasaran pencurian. Pada dini hari ini, ia berhasil menggagalkan aksi tersebut setelah sebelumnya pada 18 Desember 2024 pukul 01.30 WIB, maling berhasil masuk ke kedainya.

“Saya belum tidur di kedai, karena punya firasat maling itu akan datang lagi. Ternyata benar, maling mencoba masuk lewat samping kedai tetangga saya, naik ke meja dagang. Dia tidak mengira kalau saya ada di dalam. Ketika dia clengak-clengok mencoba merogoh untuk masuk, saya langsung berteriak ‘maling’. Dia panik dan lari terbirit-birit bersama komplotannya,” ujar Udin.

Saat pelaku kabur, mereka meninggalkan dua motor lengkap dengan kunci. Selang 15 menit kemudian, satu motor yang membawa dua orang datang ke lokasi, mengaku ingin mengambil motor yang ditinggalkan pelaku. Namun Udin menahan mereka dan menggiringnya ke dalam kedai untuk diinterogasi.

“Mereka ngelak, bilang bukan bagian dari komplotan maling yang lari tadi. Tapi karena situasi mencurigakan, saya tetap laporkan ke pihak kepolisian,” tambahnya.

Kasus ini sudah dilaporkan ke Polsek Simpang Pematang untuk ditindaklanjuti. Udin berharap kejadian ini menjadi perhatian agar masyarakat lebih waspada terhadap aksi pencurian yang kerap terjadi di wilayah tersebut.

“Saya berharap ini bisa jadi bahan pengamanan bersama. Maling-maling itu berkeliaran di mana-mana,” tutup Udin.

Pihak kepolisian saat ini sedang melakukan penyelidikan terkait dugaan keterlibatan para pelaku dan kaitannya dengan komplotan pencurian yang selama ini meresahkan pemilik kedai dan usaha di kawasan Alun-Alun Simpang Pematang,  sementara dua orang dijadikan saksi dan kelima lainnya disuruh pulang. [TIM LAMPUNG 007]

Pentingnya Jurnalis Berorganisasi untuk Memperjuangkan Hak dan Martabat Profesi

DPD. Jurnalis Nasional Indonesia

OPINI– Di tengah perkembangan industri media dan tantangan yang semakin kompleks, sudah saatnya para jurnalis memahami pentingnya memiliki wadah organisasi yang solid. Bukan hanya sekadar berhimpun, berorganisasi bagi jurnalis merupakan langkah fundamental untuk memperjuangkan hak-hak yang masih sering terabaikan hingga saat ini. Selain itu, melalui organisasi, jurnalis dapat memperkuat posisi, profesionalisme, dan peran vital mereka dalam kehidupan berdemokrasi.

Kenapa Jurnalis Harus Berorganisasi?

Berorganisasi bukan hanya soal kebersamaan, tetapi juga tentang menegakkan hak-hak yang menjadi kebutuhan mendasar profesi jurnalistik. Hak atas kebebasan pers, perlindungan hukum, kesejahteraan, dan profesionalisme masih perlu diperjuangkan. Dengan kekuatan organisasi, suara jurnalis akan semakin nyaring dalam menyuarakan isu-isu tersebut serta menjaga independensi profesi dari berbagai tekanan.

Dalam sebuah organisasi, tentu harus ada tujuan yang jelas sebagai pijakan bersama, seperti:
1. Tujuan:
a. Mencapai cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
b. Mewujudkan kehidupan pers nasional yang merdeka, profesional, bermartabat, dan beradab.
c. Memastikan terpenuhinya hak publik untuk memperoleh informasi yang tepat, akurat, dan benar.

Tujuan ini menunjukkan bahwa berorganisasi bukan hanya demi kepentingan individu jurnalis, tetapi juga demi kepentingan bangsa, negara, dan masyarakat secara keseluruhan.

Langkah dan Upaya yang Perlu Dilakukan

Untuk mencapai tujuan tersebut, ada sejumlah upaya strategis yang harus dijalankan oleh organisasi jurnalis, antara lain:

1. Membangun kepribadian wartawan/jurnalis sebagai warga negara yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta taat pada konstitusi.

2. Mendorong kesadaran dan komitmen jurnalis untuk turut berperan aktif dalam pembangunan bangsa dan negara.

3. Meningkatkan kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik demi menjaga citra, kredibilitas, dan integritas profesi.

4. Mengembangkan kemampuan profesionalisme jurnalis melalui pendidikan, pelatihan, dan peningkatan kualitas.

5. Memberikan perlindungan hukum kepada jurnalis saat melaksanakan tugas jurnalistik agar terhindar dari intimidasi, kriminalisasi, atau ancaman lainnya.

6. Memperjuangkan kesejahteraan jurnalis, termasuk hak-hak ekonomi dan perlindungan sosial yang layak.

Upaya Lanjutan: Mendorong Kebijakan yang Berpihak

Selain upaya internal, organisasi jurnalis juga memiliki kewajiban untuk:

Memperjuangkan penegakan peraturan perundang-undangan yang berpihak pada kebebasan pers dan hak-hak jurnalis.

Berperan dalam membangun masyarakat yang demokratis, menghargai kebebasan berpendapat, serta berlandaskan prinsip keadilan dan kebenaran.

Saatnya Bersatu dan Bergerak

Bergabung dalam organisasi jurnalis bukan hanya sebuah pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi setiap insan pers. Ketika jurnalis bersatu dalam wadah yang kuat, berbagai persoalan yang menghambat kebebasan, profesionalisme, dan kesejahteraan dapat diatasi dengan lebih efektif.

Mari kita bersama-sama berorganisasi, bergerak, dan berjuang demi mewujudkan kehidupan pers nasional yang lebih bermartabat, profesional, serta mampu menjalankan amanah sebagai pilar keempat demokrasi.

“Pers yang kuat lahir dari jurnalis yang solid, bersatu, dan memiliki visi bersama.”




Mesuji, 15 Desember 2024
Udin Komarudin
Ketua DPD Jurnalis Nasional Indonesia

Bukan Robot yang Menjadi Musuh Kita, Tapi Kapitalisme

Media Robotika

BISNIS– Pernyataan mendiang fisikawan ternama, Stephen Hawking, bahwa “Bukan robot yang menjadi musuh kita, tapi kapitalisme,” mengungkap pandangan tajam tentang masa depan dunia kerja dan ekonomi di tengah pesatnya perkembangan teknologi.


Hawking tidak pernah menyangkal manfaat dari robotika dan kecerdasan buatan (AI) yang mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas di berbagai sektor. Namun, yang beliau soroti adalah sistem ekonomi yang mendistribusikan keuntungan dari kemajuan teknologi tersebut secara tidak merata. Kapitalisme, dengan dorongan utamanya untuk memaksimalkan keuntungan, kerap mengorbankan kesejahteraan pekerja dan memperlebar jurang ketimpangan ekonomi.

Seiring dengan berkembangnya teknologi otomatisasi, pekerjaan manusia digantikan oleh mesin dan robot. Ini bukanlah masalah jika keuntungan dari teknologi dialokasikan secara adil—misalnya melalui upah layak, program jaminan sosial, atau pendidikan ulang pekerja yang terdampak. Namun dalam sistem kapitalisme saat ini, hasil dari produktivitas cenderung terkonsentrasi di tangan segelintir elit ekonomi.

Stephen Hawking memperingatkan, jika ketimpangan ini tidak dikendalikan, teknologi yang seharusnya membawa kemakmuran justru bisa memicu krisis sosial dan ekonomi. Robot dan AI bukanlah “musuh,” melainkan instrumen. Musuh sebenarnya adalah sistem yang tidak mampu memastikan manfaat teknologi dinikmati oleh semua orang.

Dengan demikian, solusi yang dibutuhkan bukanlah menghentikan kemajuan teknologi, melainkan mereformasi sistem ekonomi agar lebih berkeadilan. Para pemimpin dunia, pembuat kebijakan, dan masyarakat perlu membahas bagaimana kekayaan yang dihasilkan oleh teknologi dapat dibagikan dengan cara yang lebih merata dan berkelanjutan.

Stephen Hawking telah memberi kita sebuah pengingat: masa depan tidak ditentukan oleh mesin, tetapi oleh keputusan manusia dalam mengatur ekonomi yang lebih inklusif dan adil.





Mesuji, 14 Desember 2024

Redaksi Satu
Jurnalis Nasional Indonesia

Manusia, Penyakit Egois yang Terus Menyerang

Sketsa: manusia berperang lawan Egoisme

OPINI– Setiap hari, di setiap sudut dunia, manusia berperang. Bukan hanya melawan sesama, tetapi juga melawan alam, makhluk hidup lain, dan bahkan dirinya sendiri. Mengapa? Karena sifat egois yang mendarah daging.


Egoisme adalah penyakit bawaan manusia, yang perlahan namun pasti terus menggerogoti harmoni kehidupan. Ketika kepentingan pribadi diprioritaskan di atas segalanya, manusia menjadi agen perusak. Contohnya nyata di mana-mana: perusakan lingkungan demi keuntungan ekonomi, konflik antarbangsa demi kekuasaan, bahkan hubungan antarindividu yang rusak karena keinginan mendominasi.

Yang mengkhawatirkan, sifat ini bukan hanya menjadi masalah pribadi, melainkan sistemik. Kapitalisme yang mendorong konsumerisme tanpa batas, polarisasi politik yang memperkuat ego kelompok, hingga teknologi yang lebih sering digunakan untuk memuaskan keserakahan dibandingkan menyelesaikan masalah.

Ironisnya, manusia sering menganggap dirinya penyelamat peradaban, pencipta kemajuan. Namun, bukankah seharusnya kita bertanya, kemajuan untuk siapa? Ketika kita memusnahkan hutan untuk membangun gedung, meracuni udara dengan asap kendaraan, atau menguasai lautan demi eksploitasi, kita sebenarnya bukan sedang maju, tetapi mundur.

Mungkin sudah saatnya manusia berhenti sejenak dan bercermin. Apakah kita ingin terus menjadi penyakit yang menyerang kehidupan, atau bertransformasi menjadi bagian dari penyembuhan dunia? Jawaban itu ada pada kita semua—dalam keberanian untuk mengalahkan ego kita sendiri.

Mari kita berpikir, bertindak, dan hidup dengan lebih bijak. Karena, jika terus dibiarkan, penyakit ini hanya akan membawa kita pada kehancuran total.







Mesuji, 14 Desember 2024

Udin Komarudin
Jurnalis Nasional Indonesia

Politik Bukan Bicara Asal Jadi, Tapi Perlu Dipikirkan Matang-Matang

Sketsa: Perpolitikkan Indonesia

OPINI-Politik adalah seni dan strategi, bukan permainan asal jadi. Dalam politik, setiap langkah yang diambil memiliki konsekuensi besar, baik bagi pelaku politik maupun masyarakat luas. Sayangnya, sering kali kita menyaksikan keputusan-keputusan yang terkesan terburu-buru, tanpa pemikiran matang, hanya demi mengejar kepentingan sesaat. Padahal, politik itu kejam. Jika tak berhati-hati, ibarat makan daging mentah, apa pun disikat tanpa peduli dampaknya.


Kekejaman politik sering kali muncul dari ambisi buta, kurangnya etika, dan pengabaian terhadap moralitas. Kita menyaksikan bagaimana serangan terhadap lawan, manipulasi informasi, bahkan pengorbanan kepentingan rakyat sering terjadi demi mengejar kekuasaan. Dalam situasi seperti ini, politik kehilangan esensinya sebagai alat membangun dan berubah menjadi arena survival of the fittest-siapa yang kuat dan licik, dialah yang menang.

Namun, apakah ini wajah politik yang kita inginkan? Politik sejatinya bukanlah medan perang atau ajang balas dendam, melainkan ruang untuk menciptakan perubahan yang bermakna. Maka dari itu, setiap keputusan politik harus dipikirkan dengan matang. Visi, data, dan analisis yang tajam adalah kunci untuk menghasilkan kebijakan yang benar-benar menjawab kebutuhan rakyat.

Politik tanpa pemikiran matang hanya akan melahirkan kebijakan yang setengah jadi, menyisakan luka mendalam bagi masyarakat. Untuk itu, para pelaku politik perlu kembali kepada hakikatnya: melayani, bukan menghancurkan. Mereka harus belajar mengambil keputusan dengan hati-hati, mengutamakan keadilan, dan memprioritaskan rakyat di atas segalanya.

Mari kita dorong praktik politik yang lebih bertanggung jawab, yang tak asal jadi, dan penuh perhitungan matang. Sebab, hanya dengan itu, kita dapat mengubah wajah politik yang kejam menjadi politik yang bermakna.




Mesuji, 13 Desember 2024


Udin Komarudin
Penggiat Pemilu [Bid_ strategi]

Politik Tak Perlu Vulgar, Tapi Harus Tetap Segar

Ketua DPD. Jurnalis Nasional Indonesia

OPINI– Dalam hiruk-pikuk perpolitikan yang semakin panas, penting untuk diingat bahwa politik bukanlah ajang saling menjatuhkan atau menabur kontroversi. Politik tak perlu vulgar. Yang dibutuhkan bukanlah sensasi tanpa substansi, melainkan gagasan yang segar dan mampu membawa perubahan nyata.


Sayangnya, di era media sosial yang serba cepat, kita sering disuguhi drama politik yang lebih banyak mempertontonkan sisi buruk: ujaran kebencian, saling sindir, hingga serangan pribadi. Publik pun jengah, apatis, bahkan muak. Padahal, politik adalah alat penting untuk membangun bangsa, bukan panggung sandiwara atau ajang mencari popularitas.

Politik yang sehat adalah politik yang segar. Segar dalam arti menyegarkan harapan masyarakat dengan ide-ide baru, solusi nyata, dan keberanian untuk memperjuangkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Politisi yang segar adalah mereka yang mampu menyampaikan pesan dengan santun, merangkul semua pihak, dan menghadirkan suasana optimisme di tengah tantangan.

Memenangkan hati rakyat tidak perlu dengan cara vulgar. Menang dengan gagasan, integritas, dan kerja nyata adalah bentuk kemenangan sejati. Sudah saatnya para pelaku politik menciptakan narasi yang membawa perubahan positif, bukan sekadar memupuk konflik demi panggung sesaat.

Kita semua berhak mendapatkan politik yang beretika, kreatif, dan inovatif. Politik yang tak perlu vulgar, tapi tetap segar untuk membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Jadi, mari kita bersama mendorong politik yang membangun, bukan meruntuhkan. Menang dengan cara terhormat, demi masa depan yang gemilang.





Mesuji, kampus IAI_13 Desember 2024

Udin Komarudin
Ketua DPD. Jurnalis Nasional Indonesia

Tantangan dan Harapan di Tengah Penolakan Perpanjangan HGU PT PAL di Mesuji, Lampung

Ratusan Warga Rapat Tolak Perpanjangan HGU


HUKUM– Mesuji, Lampung, kembali menjadi sorotan publik setelah delapan desa di wilayah ini dengan tegas menolak perpanjangan Hak Guna Usaha (HGU) PT Panca Agra Lestari (PAL). Sikap masyarakat ini mencerminkan kegerahan yang telah berlangsung lama dan menjadi momentum penting bagi suara lokal untuk didengar dalam pengelolaan sumber daya alam.

Penolakan ini bukan hanya perwujudan dari ketidakpuasan masyarakat terkait manfaat langsung yang mereka rasakan, tetapi juga cerminan dari aspirasi akan pengelolaan yang lebih berkelanjutan dan mengedepankan kepentingan lokal. Banyak di antara mereka yang merasa bahwa kehadiran perusahaan belum sepenuhnya memberi dampak positif yang signifikan, baik dari segi ekonomi maupun lingkungan.

Dalam konteks ini, pemerintah dan PT PAL memiliki peran krusial untuk melakukan introspeksi. Bagaimana bisa sebuah hubungan yang seharusnya saling menguntungkan berubah menjadi penolakan terbuka? Dialog terbuka dan inklusif diperlukan untuk mencapai titik temu antara kepentingan korporasi dan kebutuhan masyarakat lokal. Transparansi dalam manajemen serta keberpihakan pada solusi yang berkelanjutan adalah kunci utama dalam menyelesaikan konflik ini.

Di sisi lain, penolakan ini bisa menjadi peluang bagi pemerintah daerah untuk merumuskan kebijakan agraria dan pengelolaan lahan yang lebih berpihak pada masyarakat. Inovasi dalam pemanfaatan lahan, pendampingan dalam pertanian berkelanjutan, dan pengembangan ekonomi lokal berbasis sumber daya bisa menjadi alternatif yang menarik dan mendukung kesejahteraan jangka panjang.

Bagi masyarakat, ini adalah momen untuk memperkuat kapasitas dan kerjasama dalam mengadvokasi aspirasi mereka. Kemampuan untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan adalah modal berharga demi memastikan bahwa kontribusi mereka terhadap ekonomi lokal diakui dan dihargai.

Ke depannya, harmonisasi antara pengembangan ekonomi dan pelestarian lingkungan serta sosial harus menjadi prioritas. Semoga interaksi antara semua pihak terkait ini dapat menghasilkan solusi holistik yang tidak hanya menjawab persoalan saat ini, tetapi juga memberi harapan untuk Mesuji yang lebih baik.






Mesuji, 11 Oktober 2024

CHEUDIN
Jurnalis Nasional Indonesia