Kucing dan Politik Pilkada Mesuji: Metafora Diam yang Sarat Makna

Kucing Kedinginan

OPINI- Dalam panggung Pilkada Mesuji, dinamika politik kerap kali diibaratkan sebagai permainan strategi penuh teka-teki. Menariknya, simbolisme kode alam berupa “kucing” menjadi metafora unik yang mencerminkan esensi dari permainan kekuasaan di daerah ini. Seperti seekor kucing yang berjalan di salju, jejaknya mungkin samar, tetapi kehadirannya nyata dan dampaknya terasa.

Kucing dikenal sebagai makhluk yang tangguh dalam keheningan, lihai dalam menyusun langkah, dan misterius dalam setiap gerak-geriknya. Hal ini sejalan dengan manuver politikus yang terlibat dalam Pilkada Mesuji, di mana strategi tidak selalu disajikan secara terbuka, tetapi terbungkus rapat dalam rencana yang penuh perhitungan. Layaknya tatapan tajam kucing, para aktor politik membaca situasi, mengintai celah, dan bergerak pada saat yang tepat—bukan untuk sekadar bertahan, tetapi untuk merebut posisi terbaik.

Selain itu, kucing menggambarkan keluwesan yang menjadi kunci dalam menghadapi kerasnya persaingan politik. Tidak seperti serigala yang mengandalkan dominasi atau harimau yang bertarung dengan kekuatan, kucing menunjukkan bahwa fleksibilitas dan kecerdikan sering kali menjadi senjata yang lebih ampuh. Dalam kontestasi Pilkada Mesuji, kemenangan tidak selalu milik yang terkuat secara fisik atau materi, tetapi mereka yang mampu membaca situasi, menyesuaikan diri, dan bergerak di momen yang tepat.

Simbolisme kucing ini juga membawa pesan bahwa politik bukan hanya tentang kemenangan, tetapi tentang seni bertahan dan memanfaatkan setiap peluang. Para calon kepala daerah di Mesuji mungkin terlihat tenang di permukaan, namun di balik itu, strategi mereka melilit rapat seperti syal tebal yang melindungi mereka dari “dinginnya” persaingan. Meski suasana Pilkada kerap terasa dingin dan penuh tekanan, permainan politik tetap hangat dengan intrik-intrik yang menghidupkan persaingan.

Dalam keheningan dan misterinya, kucing mengajarkan bahwa kemenangan bukan milik mereka yang sekadar bersuara nyaring, tetapi bagi yang cerdik dan bijak memilih waktu untuk bertindak. Dalam Pilkada Mesuji, simbol ini menjadi refleksi sempurna dari dinamika yang terjadi—politik yang penuh taktik, sarat kejutan, namun tetap mempertahankan sisi lembut dalam setiap geraknya.

Pada akhirnya, Pilkada Mesuji bukan hanya soal perebutan kekuasaan, tetapi juga tentang bagaimana strategi dapat diramu dalam keheningan yang elegan. Dan seperti seekor kucing yang licin namun penuh pesona, para aktor politik di Mesuji sedang menunjukkan bahwa kemenangan adalah tentang ketajaman, kesabaran, dan keberanian dalam melangkah.




Mesuji, Kedai Tana Nama, 16 November 2024


Udin Komarudin
Keluarga Siliwangi[Kuda Hitam]/ Sastra Praja ke 16

Debat Publik Terakhir Pilkada Mesuji Penuh Semangat dan Kebersamaan

Kebersanaan Selesai Debat Publik Terakhir

MESUJI-Debat Publik terakhir [ketiga] Pilkada Mesuji yang digelar kemarin pada 14 November 2024 di Gedung Serba Guna Taman Kehati berlangsung meriah dan penuh semangat. Atmosfer kehangatan dan kebersamaan terasa kuat, terlihat dari sejumlah tokoh yang hadir dan saling berfoto bersama dengan senyum lepas. Meskipun berada dalam kompetisi Pilkada, suasana kekeluargaan di antara para kandidat dan pendukung sangat tampak.

Dalam foto-foto yang diambil usai debat, para kandidat seperti Prapto, Fuad, Edi Ashari, dan Syamsudin terlihat berseri-seri. Mengenakan busana serasi berwarna putih dan abu-abu, mereka tampak santai dan ramah. Momen ini menunjukkan bahwa Pilkada dapat menjadi wadah silaturahmi, bukan sekadar panggung adu visi dan misi.

“Meski Elfianah tidak terlihat dalam foto kebersamaan, hal ini tidak mengurangi semangat kebersamaan yang tercipta,” ujar seorang pengamat politik yang hadir.

Debat kali ini menjadi ajang bagi setiap kandidat untuk menampilkan komitmen mereka terhadap pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Setiap pasangan calon memperlihatkan pandangan dan strategi masing-masing dalam memajukan Mesuji, memberikan masyarakat wawasan langsung tentang visi dan misi calon pemimpin mereka.

Disiarkan secara langsung, debat ini memberi kesempatan bagi warga Mesuji untuk menyaksikan pandangan para kandidat, menciptakan pesan positif bahwa pemilihan kepala daerah bisa menjadi ajang persatuan dan solidaritas masyarakat.

Debat ketiga ini juga menjadi pengingat bahwa Pilkada bukan hanya soal persaingan, melainkan kolaborasi demi kemajuan bersama. Setelah debat, para kandidat dan pendukungnya tampak berbaur dalam suasana santai, saling berfoto bersama, dan menunjukkan bahwa persahabatan tetap di atas segalanya.

Masyarakat Mesuji pun semakin antusias menantikan hasil Pilkada ini, berharap siapapun yang terpilih dapat membawa perubahan positif dan memimpin dengan bijaksana demi kemajuan Mesuji yang lebih baik. [Udin/Tim Lampung]

Ramalan Bocah Indigo Menghebohkan Dunia Politik Mesuji: Kemunculan Calon Pemimpin di Luar Dugaan

Sketsa Ramalan Bocah Indigo

SOSIAL– Sebuah kabar yang mengguncang ranah politik Mesuji hadir dari pernyataan seorang bocah indigo. Dalam ramalannya yang menyita perhatian publik, bocah tersebut mengungkapkan sosok calon pemimpin baru yang akan membawa perubahan besar bagi Mesuji, meski tidak berasal dari dunia politik. Empat pasangan calon yang kini berjuang dalam Pilkada Mesuji 2024—Syamsudin, Elfianah, Edi Azhari, dan Suprapto—kini menghadapi sorotan dari publik yang penasaran akan sosok yang disebut dalam ramalan ini.

Menurut bocah indigo tersebut, sosok pemimpin yang akan muncul di Mesuji adalah seseorang yang memiliki ketulusan hati untuk memajukan daerah, namun bukan dari kalangan politisi. Figur ini dipandang memiliki daya tarik kuat di kalangan masyarakat karena dianggap bersih dari kepentingan politik dan memiliki pendekatan yang tulus. Ia diyakini akan muncul sebagai simbol pembaharuan yang jujur, dan ramalan ini menggetarkan masyarakat yang sudah lama mendambakan perubahan di tengah kondisi politik yang kian dinamis.

Ramalan ini tentu mengundang respons yang beragam dari berbagai lapisan masyarakat Mesuji. Di satu sisi, ada yang menyambutnya dengan antusias sebagai tanda datangnya pemimpin yang mengedepankan kepentingan rakyat. Di sisi lain, sebagian menganggap bahwa sosok ini mungkin hanya sebuah simbol harapan yang terlalu ideal di tengah hiruk-pikuk politik. Namun demikian, ramalan ini berhasil membuka ruang diskusi yang menarik di kalangan masyarakat, yang mempertanyakan apakah pemimpin yang ideal benar-benar harus berasal dari kalangan politik atau justru dari latar belakang yang jauh dari itu.

Bagi empat pasangan calon yang saat ini bertarung, ramalan bocah indigo ini menjadi tantangan tersendiri. Selain harus bersaing dalam kampanye yang semakin intensif, mereka juga harus menghadapi ekspektasi masyarakat akan adanya sosok baru yang membawa semangat pembaharuan tanpa embel-embel politik. Ini bisa saja menjadi refleksi bagi para calon untuk menampilkan diri sebagai pemimpin yang lebih dekat dengan rakyat dan mengedepankan kejujuran di atas kepentingan pribadi.

Terlepas dari benar atau tidaknya ramalan ini, satu hal yang jelas adalah semakin tingginya harapan masyarakat Mesuji terhadap pemimpin yang bisa mengakomodasi aspirasi rakyat. Pilkada kali ini bukan sekadar ajang pemilihan kepala daerah, tetapi juga cerminan harapan baru bagi sebuah perubahan nyata di Mesuji. Bagi masyarakat yang menginginkan kepemimpinan tanpa kepentingan politik yang berlebihan, ramalan bocah indigo ini seolah menjadi simbol bagi kembalinya idealisme dalam dunia politik lokal.

Apakah ramalan ini akan terbukti dan sosok pemimpin tanpa latar belakang politik benar-benar akan muncul di Mesuji? Masyarakat kini hanya bisa menunggu hasil Pilkada, sembari berharap agar pemimpin terpilih kelak mampu membawa Mesuji ke arah yang lebih baik, dengan ketulusan yang selalu didambakan.




Mesuji, 10 November 2024

Udin Komarudin
Jurnalis Nasional Indonesia

Antara Kata dan Realita, Ketika Bicara Tak Lagi Setara dengan Tindakan

Sketsa Karakter Manusia

PENDIDIKAN- Di tengah derasnya arus opini dan ungkapan publik, kita kerap menemukan banyak orang yang berbicara lantang tentang perubahan, visi besar, dan cita-cita mulia. Ironisnya, ucapan-ucapan tersebut sering kali berhenti sebatas kata-kata indah yang memanjakan telinga, tanpa dedikasi untuk mewujudkan apa yang diucapkan. Mereka tampak lebih seperti sosok yang senang memamerkan “perhiasan hidup” palsu, sekadar menampilkan gemerlap kata tanpa kekuatan nyata di baliknya.

Militansi – berupa dedikasi, integritas, dan komitmen nyata – sering kali justru menjadi barang langka di kalangan mereka yang pandai beretorika. Mereka yang berani menyuarakan pendapat, berpidato tentang idealisme, dan berjanji untuk bertindak demi kepentingan orang banyak, namun ketika ditantang untuk turun tangan, tangan mereka justru seakan tak tersentuh oleh tantangan. Berbicara seolah lebih mudah daripada bertindak; menjadi pesolek kata tanpa makna ternyata lebih nyaman daripada berkontribusi nyata di lapangan.

Perilaku semacam ini mengingatkan kita pada fenomena ‘KAWE’ – imitasi tanpa isi, hanya mempercantik permukaan tanpa ketulusan di dalamnya. Orang-orang ini lebih sibuk membangun citra daripada menyelami arti sebenarnya dari militansi yang mereka gembar-gemborkan. Mereka adalah ‘pesolek’ kehidupan yang lebih tertarik pada kesan daripada pada substansi, menyuguhkan “perhiasan” sebagai penutup bagi kedangkalan komitmen.

Apa yang kita perlukan bukanlah sekadar kata-kata manis, melainkan dedikasi yang nyata dan keberanian untuk merealisasikan komitmen tersebut. Militansi sejati lahir dari keteguhan hati dan kesediaan untuk berkorban demi nilai-nilai yang diucapkan. Masyarakat perlu menyaring, melihat, dan memilih mereka yang tidak hanya bicara tapi juga bergerak; yang tidak hanya menghiaskan kata tapi menghayati komitmen; yang bukan sekadar ‘pesolek’ tapi benar-benar berjuang dengan tulus. Karena hanya dengan tindakan nyata, perubahan dapat benar-benar dirasakan, bukan hanya terdengar sebagai janji manis.

Semoga kita semua belajar untuk tidak sekadar mengucap, tapi juga meresapi dan mewujudkan kata dalam tindakan.

Mesuji, 12 November 2024

Udin Komarudin

Jurnalis Nasional Indonesia

Hari Pahlawan dan Pilihan untuk Masa Depan Mesuji

Sketsa photo: Memperingati Hari
Pahlawan Nasional

OPINI- Hari Pahlawan selalu menjadi momen yang membangkitkan kembali semangat pengorbanan dan kebersamaan dalam setiap jiwa rakyat Indonesia. Di seluruh pelosok negeri, masyarakat merenung, mengingat perjuangan para pahlawan yang gugur demi kemerdekaan. Pada tanggal 10 November ini, Mesuji berdiri dengan harapan besar, bukan hanya mengenang pahlawan nasional, tetapi memikirkan pahlawan lokal yang akan membawa kabupaten ini ke masa depan yang lebih baik.


Di tanah Mesuji yang luas, subur, dan penuh potensi ini, pilkada yang akan datang tidak hanya soal memilih pemimpin, tetapi juga memilih arah kehidupan. Ini tentang siapa yang akan menjadi teladan, pemimpin sejati yang memahami nilai-nilai yang dulu para pahlawan perjuangkan. Harapan masyarakat saat ini tak berbeda jauh dengan harapan rakyat dahulu: hidup sejahtera, aman, adil, dan berdaya. Dalam setiap pilihan, di setiap bilik suara, masyarakat seolah bertanya, “Siapakah yang akan membawa kita maju tanpa lupa pada akar budaya dan semangat gotong royong yang kita junjung tinggi?”

Pemimpin yang dibutuhkan bukanlah sekadar tokoh dengan janji-janji besar, tetapi sosok yang berani mencintai Mesuji dengan tulus, tanpa pamrih. Pada Hari Pahlawan ini, mari kita maknai bahwa menjadi pemimpin adalah menjalankan mandat rakyat dengan hati pahlawan. Inilah pemimpin yang teguh berdiri kala rakyat merasakan ketidakadilan, yang tak gentar menghadapi tantangan demi kesejahteraan bersama.

Di setiap penjuru Mesuji, rakyat mendambakan pemimpin yang berpikir untuk semua, bukan hanya segelintir orang. Pemimpin yang memahami bahwa menjadi pahlawan adalah mengutamakan kepentingan rakyat, memastikan tanah ini menjadi tempat yang layak dan sejahtera bagi generasi mendatang. Pemimpin yang berani berkorban demi kebaikan seluruh warga, yang tak gentar melangkah ketika jalan terjal, dan tetap rendah hati kala keberhasilan tercapai.

Momen Pilkada Mesuji yang bersamaan dengan perayaan Hari Pahlawan seakan menjadi pengingat bahwa setiap suara yang terucap di bilik suara adalah bagian dari perjuangan itu sendiri. Di sanalah rakyat Mesuji bisa mengubah nasib dan masa depan daerah ini, melalui pilihan yang cermat dan penuh kesadaran.

Hari ini, ketika kita mengenang perjuangan para pahlawan, mari kita berjanji untuk memilih pemimpin yang layak disebut pahlawan di hati rakyat Mesuji. Pilihan kita adalah senjata, dan dalam setiap pilihan ada masa depan yang kita ciptakan bersama.





Mesuji, 10 November 2024


Udin Komarudin
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Jurnalis Nasional Indonesia

Paslon Edi-Tri Kampanye di Margo Mulyo: Ajak Pendukung Jaga Persatuan, Hindari Politik Identitas

Paslon Edi dan Tri Nomer urut 3 Berkampanye

MESUJI- Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Mesuji nomor urut 3, Edi dan Tri, menggelar kampanye di Desa Margo Mulyo, Kecamatan Mesuji Timur, dengan mengedepankan pesan penting tentang bahaya politik identitas. Jumat [08/11/24

Di hadapan para pendukung, Edi menekankan agar semua tim dan masyarakat pendukung memahami risiko di balik kampanye yang berfokus pada identitas kelompok tertentu.

“Kita harus tetap bersatu dan menjaga marwah demokrasi. Melalui pendekatan media sosial, mari kita edukasi publik dengan menyebarkan pesan inklusif. Sampaikan dampak negatif dari politik identitas menggunakan konten kreatif, dan ajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi,” ujar Edi dengan penuh semangat.

Paslon Edi-Tri berharap, dengan pendekatan ini, persatuan masyarakat Mesuji tetap terjaga selama masa kampanye, menciptakan suasana demokrasi yang damai dan harmonis di tengah perbedaan. [Red]

Tanggapan Paslon Edi dan Tri Nomor 3 Pasca Debat Publik Kedua: Komitmen pada Persatuan dan Pembangunan di Tengah Isu Politik Identitas

Doc. Timses Edi dan Tri Nomer 3
dalam Debat Publik

MESUJI – Setelah mengikuti Debat Publik kedua Pilkada Mesuji 2024, pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Edi Azhari dan Tri Isyani (nomor urut 3) menyampaikan pandangannya saat diwawancarai wartawan. Di tengah isu politik identitas yang kian mengemuka, pasangan Edi-Tri tampil dengan pendekatan elegan, yang diyakini dapat meredam potensi konflik dan menjaga kesatuan masyarakat. Kamis [07/11/24]

Pasangan Edi-Tri berkomitmen untuk menonjolkan integritas dan persatuan masyarakat Mesuji di atas kepentingan politik semata. Mereka menghadirkan dukungan figur publik netral dan berwibawa sebagai simbol kesatuan, yang diharapkan mampu memberi ketenangan dan arah positif bagi masyarakat.

Dukungan dari Figur Publik yang Netral

Sebagai bagian dari strategi kampanyenya, pasangan Edi-Tri menggandeng sejumlah tokoh masyarakat yang dikenal netral dan bebas dari konflik kepentingan. Tokoh-tokoh ini dipilih karena dihormati lintas kelompok dan memiliki reputasi yang baik dalam menjaga kebersamaan.

“Figur publik yang netral membawa pesan kuat tentang persatuan. Kami ingin mengedepankan kampanye yang fokus pada dampak positif bagi masyarakat Mesuji, bukan sekadar kemenangan,” ujar Edi Azhari.

Dengan hadirnya tokoh-tokoh netral dan berintegritas tinggi dalam barisan pendukungnya, Edi-Tri berharap masyarakat akan menilai pasangan calon berdasarkan program dan visi, bukan identitas yang memecah belah.

Menghadapi Isu Identitas dengan Program Kerja Nyata

Menyikapi persaingan yang sering mengangkat isu identitas, pasangan Edi-Tri memilih untuk tetap fokus pada program kerja yang membawa manfaat bagi masyarakat, seperti program peningkatan ekonomi berbasis kerakyatan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia.

“Kami ingin menawarkan visi pembangunan yang inklusif,” jelas Tri Isyani, menegaskan bahwa Edi-Tri berkomitmen pada kampanye yang membawa persatuan dan kemajuan bagi Mesuji.

Pendekatan ini juga dianggap sebagai sinyal bahwa Mesuji membutuhkan pemimpin yang mampu mengedepankan kepentingan bersama, menjaga keharmonisan, dan tidak tergoda oleh isu-isu yang hanya memecah belah.

Mengajak Masyarakat Fokus pada Program dan Visi

Edi-Tri mengajak masyarakat Mesuji untuk lebih memerhatikan program kerja, rekam jejak, serta gagasan inovatif para calon. Mereka berharap agar dukungan dari figur publik netral dapat membawa kesejukan dan menjadi pendorong agar Pilkada Mesuji berlangsung damai dan demokratis.

Dengan mengutamakan kampanye yang bermartabat, pasangan Edi-Tri berkomitmen membawa harapan baru bagi Mesuji, mengedepankan pembangunan yang inklusif tanpa mengabaikan persatuan warga. [Red]

Pasangan Edi Ashari-Tri Isyani Tunjukkan Kapabilitas dalam Debat Publik Kedua Pilkada Mesuji

Debat Publik Kedua Paslon Nomer Urut 3

MESUJI– Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Mesuji nomor urut 3, Edi Ashari dan Tri Isyani, kembali menegaskan kapabilitas mereka dalam Debat Publik Kedua Pilkada Mesuji 2024. Mengangkat tema “Hukum, Pembangunan Sumber Daya Manusia, dan Kebijakan Publik,” debat yang digelar pada Kamis, 7 November 2024, di Aula GSG Taman Kehati, Desa Mekar Sari, Kecamatan Tanjung Raya, ini menjadi panggung penting bagi Tri Isyani untuk menyampaikan visi, misi, dan strategi pembangunan Mesuji.


Dalam kesempatan tersebut, Tri Isyani dengan tegas memaparkan rencana peningkatan kualitas sumber daya manusia, penegakan hukum yang lebih tegas, serta kebijakan publik yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Ia menekankan pentingnya program pemberdayaan yang berfokus pada layanan publik yang lebih baik, dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup seluruh warga Mesuji.

“Prioritas kami adalah memberdayakan masyarakat dengan kebijakan yang tepat sasaran, untuk menciptakan lingkungan yang aman, tertib, dan sejahtera,” ujar Tri Isyani dalam sesi debat.

Persaingan kali ini semakin sengit dengan empat pasangan calon yang berlomba memaparkan visi misi unggulan mereka. Setiap pasangan berupaya menunjukkan kemampuan dan strategi andal untuk menjawab tantangan pembangunan, kebijakan publik, hingga isu hukum yang krusial di Mesuji. Debat ini menjadi arena penting bagi publik untuk melihat siapa yang mampu menghadirkan solusi konkret bagi masa depan kabupaten.

Tim pemenangan pasangan Edi Ashari-Tri Isyani optimis bahwa program-program yang mereka tawarkan memiliki daya tarik tersendiri dan akan mendapatkan simpati masyarakat Mesuji. Melalui penampilan Tri Isyani dalam debat ini, mereka berharap visi pro-rakyat yang diusungnya dapat meyakinkan pemilih bahwa pasangan ini mampu membawa perubahan nyata.

Debat publik ini memberi masyarakat kesempatan untuk menilai langsung komitmen dan ide dari tiap kandidat, serta membantu mereka menentukan pilihan calon pemimpin yang akan membawa Mesuji menuju pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan di masa mendatang. [Red]

Paslon Edi dan Tri Gencarkan Kampanye di Desa Wonosari, Bangun Jaringan Relawan Heterogen

Paslon Edi dan Tri Nomer urut 3 Kampanye di Wonosari


MESUJI- Calon Bupati Mesuji, Edi Azhari, bersama pasangannya, Tri Isyani, kembali menyapa masyarakat dalam kampanye di Desa Wonosari, Kecamatan Mesuji Timur. Pasangan ini tidak hanya memperkuat ikatan dengan warga setempat, tetapi juga membangun jaringan relawan yang beragam, melibatkan berbagai latar belakang profesi dan komunitas, yang diyakini akan memberikan dukungan luas dan efektif. Rabu [06/11/24]

Dalam kesempatan tersebut, Edi menekankan pentingnya jaringan relawan yang heterogen sebagai langkah strategis kampanye mereka. “Ciptakan jaringan relawan yang heterogen. Mereka bisa menjadi juru bicara yang efektif di akar rumput, menyebarkan pesan toleransi dan mengarahkan pemilih untuk fokus pada isu-isu pembangunan,” ujar Edi di hadapan para pendukung dan masyarakat Desa Wonosari.

Jaringan relawan dari berbagai kelompok diharapkan dapat membangun pemahaman lebih baik di masyarakat mengenai visi dan misi yang diusung Edi-Tri, khususnya terkait isu pembangunan yang berkelanjutan. Dengan relawan yang berasal dari berbagai latar belakang, pasangan ini optimis bisa memperluas jangkauan kampanye dan mengajak lebih banyak pemilih untuk turut mendukung mereka dalam Pilkada Mesuji 2024.

Selain berbicara mengenai strategi kampanye, pasangan Edi-Tri juga menyampaikan rencana-rencana mereka untuk membangun infrastruktur dan memperbaiki fasilitas publik, yang menjadi isu utama di Desa Wonosari.

Kampanye Edi-Tri di Desa Wonosari berlangsung dengan antusiasme warga yang tinggi. Dukungan dan kehadiran jaringan relawan lintas komunitas menambah semarak acara, sekaligus menunjukkan bahwa pasangan ini memiliki dukungan yang kuat dari berbagai kelompok masyarakat. [Red]

Paslon Edi dan Tri Kampanye di Desa Simpang Pematang, Fokus pada Agenda Pembangunan dan Kesejahteraan

Paslon Edi dan Tri Nomer 3 dan Masyarakat Pemilih

MESUJI- Pasangan Calon (Paslon) nomor urut 3, Edi Azhari dan Tri Wibowo, menggelar kampanye di Desa Simpang Pematang kecamatan Simpang Pematang pada Selasa (05/11/24), dengan menekankan visi dan misi untuk memperkuat agenda pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.


Dalam orasi kampanye, Edi, calon Bupati Mesuji, mengungkapkan komitmennya untuk meningkatkan kualitas hidup warga dengan rencana kerja konkret, terutama dalam sektor kesejahteraan, kesehatan, dan pendidikan. Ia menekankan bahwa yang dibutuhkan masyarakat adalah perbaikan nyata yang dapat dirasakan, bukan sekadar retorika atau simbolisasi.

“Kami tidak akan hanya bicara soal identitas atau slogan. Kami berkomitmen menghadirkan program-program dengan hasil nyata yang terukur di lapangan. Agenda kami dirancang untuk menyentuh langsung kesejahteraan masyarakat,” ujar Edi.

Pasangan Edi-Tri menyebutkan sejumlah prioritas pembangunan yang mereka tawarkan, mulai dari peningkatan akses layanan kesehatan di desa, perbaikan infrastruktur pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program berbasis usaha kecil dan menengah. Semua program ini, menurut Edi, telah melalui perencanaan yang matang agar tepat sasaran dan langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Desa Simpang Pematang yang menjadi salah satu lokasi kampanye diharapkan mendapat perhatian khusus, mengingat kebutuhan pembangunan dan peningkatan kualitas hidup di wilayah ini. Paslon Edi-Tri menegaskan, mereka berkomitmen untuk membangun Mesuji dengan pendekatan yang berfokus pada kemajuan dan kesejahteraan.

Kampanye ini dihadiri oleh masyarakat setempat yang antusias mendengar langsung gagasan dan program yang ditawarkan Paslon nomor 3. Dengan visi yang terfokus pada pembangunan yang berkelanjutan dan kesejahteraan yang nyata, pasangan Edi-Tri berharap dapat memberikan perubahan positif yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat di Mesuji. [Red]