
OPINI- Dalam panggung Pilkada Mesuji, dinamika politik kerap kali diibaratkan sebagai permainan strategi penuh teka-teki. Menariknya, simbolisme kode alam berupa “kucing” menjadi metafora unik yang mencerminkan esensi dari permainan kekuasaan di daerah ini. Seperti seekor kucing yang berjalan di salju, jejaknya mungkin samar, tetapi kehadirannya nyata dan dampaknya terasa.
Kucing dikenal sebagai makhluk yang tangguh dalam keheningan, lihai dalam menyusun langkah, dan misterius dalam setiap gerak-geriknya. Hal ini sejalan dengan manuver politikus yang terlibat dalam Pilkada Mesuji, di mana strategi tidak selalu disajikan secara terbuka, tetapi terbungkus rapat dalam rencana yang penuh perhitungan. Layaknya tatapan tajam kucing, para aktor politik membaca situasi, mengintai celah, dan bergerak pada saat yang tepat—bukan untuk sekadar bertahan, tetapi untuk merebut posisi terbaik.
Selain itu, kucing menggambarkan keluwesan yang menjadi kunci dalam menghadapi kerasnya persaingan politik. Tidak seperti serigala yang mengandalkan dominasi atau harimau yang bertarung dengan kekuatan, kucing menunjukkan bahwa fleksibilitas dan kecerdikan sering kali menjadi senjata yang lebih ampuh. Dalam kontestasi Pilkada Mesuji, kemenangan tidak selalu milik yang terkuat secara fisik atau materi, tetapi mereka yang mampu membaca situasi, menyesuaikan diri, dan bergerak di momen yang tepat.
Simbolisme kucing ini juga membawa pesan bahwa politik bukan hanya tentang kemenangan, tetapi tentang seni bertahan dan memanfaatkan setiap peluang. Para calon kepala daerah di Mesuji mungkin terlihat tenang di permukaan, namun di balik itu, strategi mereka melilit rapat seperti syal tebal yang melindungi mereka dari “dinginnya” persaingan. Meski suasana Pilkada kerap terasa dingin dan penuh tekanan, permainan politik tetap hangat dengan intrik-intrik yang menghidupkan persaingan.
Dalam keheningan dan misterinya, kucing mengajarkan bahwa kemenangan bukan milik mereka yang sekadar bersuara nyaring, tetapi bagi yang cerdik dan bijak memilih waktu untuk bertindak. Dalam Pilkada Mesuji, simbol ini menjadi refleksi sempurna dari dinamika yang terjadi—politik yang penuh taktik, sarat kejutan, namun tetap mempertahankan sisi lembut dalam setiap geraknya.
Pada akhirnya, Pilkada Mesuji bukan hanya soal perebutan kekuasaan, tetapi juga tentang bagaimana strategi dapat diramu dalam keheningan yang elegan. Dan seperti seekor kucing yang licin namun penuh pesona, para aktor politik di Mesuji sedang menunjukkan bahwa kemenangan adalah tentang ketajaman, kesabaran, dan keberanian dalam melangkah.
Mesuji, Kedai Tana Nama, 16 November 2024
Udin Komarudin
Keluarga Siliwangi[Kuda Hitam]/ Sastra Praja ke 16








