Kampanye Paslon Edi Ashari dan Tri di Desa Panca Warna, Way Serdang: Tekankan Persatuan dan Inklusivitas

Kampanye Paslon Edi Ashari dan Tri di Desa Panca Warna

MESUJI– Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Mesuji nomor urut 3, Edi Ashari dan Tri, kembali menggelar kampanye di Desa Panca Warna, Kecamatan Way Serdang. Acara tersebut berlangsung dengan semangat tinggi, dihadiri oleh masyarakat setempat yang antusias mendengarkan visi dan misi pasangan ini untuk pembangunan Mesuji. Minggu [03/11/24]

Dalam sambutannya, Edi Ashari menekankan pentingnya persatuan di tengah masyarakat Mesuji. Dengan slogan “Bersama Lawan Korupsi, Bersama Bangun Mesuji,” Edi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berjuang bersama memberantas korupsi dan mewujudkan pemerintahan yang bersih serta transparan.

Edi Ashari menyampaikan, “Kami percaya bahwa Mesuji akan menjadi daerah yang lebih maju jika seluruh elemen masyarakat dapat bersatu, mengedepankan kepentingan bersama, dan aktif berpartisipasi dalam setiap proses pembangunan. Mesuji yang inklusif adalah Mesuji yang kuat,” ujarnya di hadapan warga yang hadir.

Selain itu, Edi Ashari dan Tri juga menyoroti program-program pro-rakyat yang dirancang untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat, mencakup aspek pendidikan, kesehatan, serta peluang ekonomi bagi pemuda dan pelaku usaha mikro. Pasangan ini menegaskan komitmen mereka untuk memastikan seluruh warga Mesuji, tanpa terkecuali, mendapatkan akses yang setara dalam menikmati hasil pembangunan.

Kampanye di Desa Panca Warna ini diakhiri dengan diskusi terbuka bersama warga, di mana Edi Ashari dan Tri mendengarkan aspirasi langsung dari masyarakat. Pasangan ini berharap dukungan yang mereka terima dapat menjadi langkah awal untuk membawa perubahan positif di Mesuji, dengan menciptakan tata kelola yang bebas dari korupsi dan inklusif bagi semua golongan. [Red]

Cerita Singkat Berdasarkan Fakta Freeport

Sumber Factual.id

Freeport, sebuah tambang raksasa di Papua, menyimpan kisah yang tak terbayangkan. Di bawah tanahnya yang dalam, terkubur kekayaan emas yang seolah tak ada habisnya. Namun, di balik kemegahan ini, muncul pertanyaan besar: siapa yang sebenarnya merasakan hasilnya?

Kedalaman tambang Freeport melebihi Burj Khalifa, dan terowongannya mengular lebih panjang dari jalan tol Jakarta-Surabaya. Setiap tahunnya, emas berton-ton diangkut keluar, namun berapa banyak yang tersisa untuk bangsa ini? Jika dibagikan, konon setiap orang Indonesia bisa mendapat 4-5 kg emas. Tetapi, kenyataannya, kesejahteraan yang merata tetap menjadi impian yang jauh.




Puisi – Kesaksian: (Terinspirasi dari lagu “Kesaksian” oleh Iwan Fals)

Kenyataan
Harus dikabarkan,
Aku bernyanyi
Menjadi saksi.

Gunung emas
Menggurat bumi,
Di dalam sana
Ada mimpi terkubur.

Lagu ini
Jeritan jiwa,
Hidup bersama
Harus dijaga.

Rakyat menanti
Bagian yang layak,
Tangan-tangan kecil
Menggapai harap.

Lagu ini
Harapan sukma,
Hidup yang layak
Harus dibela.

Prediksi Hasil Pilkada Mesuji Berdasarkan Intuisi Sang “Sipenggembala Kambing”

Sketsa Sipenggembala Kambing

MESUJI – Di tengah hiruk-pikuk kampanye Pilkada Mesuji, muncul kabar menarik dari seorang sosok yang lebih dikenal sebagai “Sipenggembala Kambing”. Tidak ingin dikenal lebih jauh, sosok ini sering ditemui tengah mengarit atau menggembala kambing di pedesaan. Minggu [03/11/24]

Dalam obrolan singkat, ia menyampaikan hasil intuisi pribadinya mengenai perolehan suara empat pasangan calon bupati dan wakil bupati Mesuji.

Namun, sebelum mengungkapkan prediksi ini, Sang “Sipenggembala Kambing” mengingatkan bahwa hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui tentang apa yang akan terjadi ke depan. Semua prediksi dan intuisi ini hanya sekadar perkiraan manusia dan dapat berubah seiring berjalannya waktu.

Menurut hasil intuisi sementaranya, peringkat suara keempat pasangan calon pada pemilihan nanti bisa jadi akan mengalami perubahan dari nomor urut resmi yang telah ditetapkan. Berikut prediksi peringkatnya:

. Pasangan Nomor Urut 2 diperkirakan akan menduduki peringkat pertama.

. Pasangan Nomor Urut 3 kemungkinan berada di peringkat kedua.

. Pasangan Nomor Urut 4 diprediksi akan berada di peringkat ketiga.

. Pasangan Nomor Urut 1 diperkirakan akan berada di peringkat keempat.

Sang Sipenggembala menyebutkan bahwa angka-angka ini masih bisa berubah, terutama saat masa tenang, ketika publik memiliki kesempatan untuk merenungi dan mempertimbangkan pilihan mereka.

Menurutnya, hasil prediksi ini adalah cerminan dari dinamika politik yang terus berkembang.

Apakah prediksi ini akan menjadi kenyataan atau justru berubah seiring dengan waktu, hanya hari pemilihan yang akan menjawab. Sementara itu, masyarakat Mesuji tetap diimbau untuk selalu menjunjung tinggi semangat demokrasi dan memilih dengan hati nurani demi kebaikan daerah mereka. [**]

Kampanye Boleh, Banjir Janji Jangan

Skema Pilkada Mesuji 2024

MESUJI- Menjelang hari pemilihan kepala daerah di Mesuji, berbagai janji kampanye mulai berseliweran di masyarakat. Empat pasangan calon bupati dan wakil bupati berlomba-lomba menyampaikan program unggulan mereka demi menarik simpati publik. Namun, publik juga semakin kritis dalam menyaring janji-janji yang ditawarkan, berharap agar janji kampanye tidak hanya mengalir deras seperti banjir namun juga nyata terlaksana. Jumat [01/11/24]

Dalam berbagai kampanye yang digelar, janji-janji seperti peningkatan layanan kesehatan, pengentasan kemiskinan, dan pembangunan infrastruktur memang kerap menjadi topik utama. Meski begitu, masyarakat di Mesuji menilai bahwa janji tersebut sebaiknya didasarkan pada rencana yang jelas dan realistis, bukan sekadar rayuan yang tak terwujud di kemudian hari.

“Kalau kampanye, silakan saja. Tapi jangan sampai janji-janji hanya terdengar manis saat kampanye, tapi hilang begitu terpilih. Masyarakat butuh kepastian dan realisasi nyata,” ungkap salah satu warga di Kecamatan Simpang Pematang.

Selain itu, para calon diminta lebih transparan dalam menyampaikan rencana implementasi dan sumber pendanaan dari program-program yang dijanjikan. Beberapa kandidat yang sudah memiliki pengalaman di bidang pemerintahan didorong untuk memaparkan rekam jejak mereka sebagai bukti konkret. Masyarakat berharap, siapapun yang terpilih dapat memenuhi harapan untuk memajukan Mesuji tanpa mengabaikan janji yang sudah diucapkan saat kampanye.

Sebagai catatan, Pilkada Mesuji 2024 akan menjadi ajang pembuktian apakah janji kampanye bisa diwujudkan. Hingga hari pemungutan suara, warga akan terus mengamati dan menilai ketulusan serta keseriusan para kandidat dalam membangun Mesuji.

Kampanye boleh, tapi jangan banjir janji yang hanya menjadi mimpi. [Red INone]

Solidaritas dan Sumpah Pemuda: Menakar Peran Pemuda di Tengah Krisis Moral dan Etika

Skema HUT Sumpah Pemuda



PENDIDIKAN- 28 Oktober menjadi tonggak penting bagi bangsa Indonesia dengan lahirnya Sumpah Pemuda, sebuah momentum yang meneguhkan ikatan persatuan, kesetiaan pada bahasa Indonesia, dan semangat kebangsaan. Mengingatkan pada pandangan sosiolog James Petras yang menyatakan bahwa “solidaritas adalah pembagian risiko secara bersama,” refleksi ini memunculkan pertanyaan mendasar: di tengah berbagai tantangan moral dan etika yang dihadapi generasi muda saat ini, sudahkah pemuda Indonesia memberikan makna yang substansial pada hari bersejarah ini?

Solidaritas pemuda pada era perjuangan dahulu terbukti mampu menumbuhkan kekuatan kolektif, mengalahkan ketakutan dan meruntuhkan sekat-sekat yang membatasi kesatuan bangsa. Saat ini, di tengah era digital yang serba cepat, solidaritas tampak rentan oleh derasnya individualisme, sikap permisif, dan kemerosotan etika. Generasi muda yang diharapkan menjadi agen perubahan justru dihadapkan pada krisis nilai yang tak jarang membuat banyak pihak bertanya-tanya: apakah peringatan Sumpah Pemuda masih relevan dalam upaya pembentukan karakter bangsa?

Berdasarkan fakta di lapangan, kita menyaksikan fenomena pergaulan bebas, rendahnya kepedulian sosial, dan kecenderungan mengejar popularitas di media sosial yang sering kali mengabaikan aspek moral dan etika. Peringatan Sumpah Pemuda menjadi sekadar seremoni yang kurang menyentuh akar masalah yang tengah dihadapi generasi ini. Meski demikian, ada secercah harapan pada segelintir pemuda yang berjuang memaknai solidaritas di tengah era yang serba instan ini—mereka yang bergerak dalam bidang pendidikan, sosial, dan lingkungan dengan semangat untuk berbagi risiko demi kepentingan bersama.

Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menumbuhkan kembali solidaritas yang tak sekadar menjadi jargon di balik momen bersejarah ini. Pemuda Indonesia perlu menyadari bahwa solidaritas bukanlah retorika, melainkan aksi nyata yang berdampak. Bangkitnya kepedulian dan kesadaran kolektif di kalangan pemuda-pemudi adalah kunci untuk membangun kembali bangsa yang berakar pada moralitas dan nilai-nilai etika yang luhur.

Peringatan Sumpah Pemuda diharapkan bukan hanya menjadi peringatan seremonial, melainkan pemicu kebangkitan solidaritas generasi muda yang berorientasi pada pembagian risiko demi kebaikan bersama.




Mesuji, 28 oktober 2024


Cheudin
Aktivis Buruh

Kampanye Hemat ala Pemerintah

Di suatu negeri yang makmur, ada seorang presiden bernama Pak Susilo. Beliau terkenal dengan kampanye hemat energi dan penghematan anggaran. Namun, di balik itu, selalu ada kejadian-kejadian lucu yang bikin rakyat tersenyum miris.

Suatu hari, pemerintah mengumumkan bahwa mereka akan memulai kampanye besar-besaran: “Hemat Demi Masa Depan.” Semua diminta berpartisipasi. Poster-poster besar menghiasi tiap sudut jalan, lengkap dengan wajah Pak Susilo yang tersenyum ramah. Biaya kampanye ini, konon kabarnya, mencapai miliaran.

Di tengah upacara pembukaan kampanye, seorang MC bersemangat membuka acara. “Mari kita sambut, Bapak Presiden Susilo, dengan tepuk tangan yang meriah! Karena hari ini, kita akan memulai langkah besar menuju penghematan!”

Seketika itu, iringan musik megah mengalun. Belasan drone terbang menghiasi langit, menuliskan “Hemat Demi Masa Depan” dengan kembang api berwarna-warni. Setelah itu, diluncurkan juga balon-balon raksasa yang membawa slogan-slogan hemat energi. Rakyat di bawah tersenyum, tapi bukan karena bangga—lebih karena tak percaya. “Ini kampanye hemat atau pesta ulang tahun?” gumam Pak Joko, seorang tukang ojek yang sedang mangkal.

“Pak Presiden ini benar-benar hemat, ya,” sahut Bu Wati yang sedang menunggu di pinggir jalan. “Saking hematnya, kita bisa lihat uang rakyat terbang di udara dalam bentuk balon!”

Puncak acara adalah pidato dari Pak Susilo. Dengan suara lantang dan penuh semangat, beliau berujar, “Rakyatku! Mulai hari ini, kita harus berhemat! Kurangi penggunaan listrik, air, dan bensin! Mari kita jalani hidup sederhana!”

Di barisan depan, ada seorang anak muda bernama Udin yang mencatat pidato dengan serius. Namun, matanya tertuju pada layar raksasa yang menayangkan pidato presiden. “Lho, kok pakai layar segede itu sih, padahal suruh hemat listrik?”

Tak lama kemudian, setelah pidato selesai, datanglah rombongan menteri dengan mobil-mobil mewah. Mereka turun, tersenyum sambil melambaikan tangan, dan masuk ke restoran mahal untuk makan siang.

Pak Joko, yang sedang duduk tak jauh dari situ, mengelus dagu. “Hebat betul, pemerintah kita. Suruh kita hemat, tapi mereka sendiri makan siang di restoran bintang lima. Hemat untuk kita, mewah untuk mereka.”

Tak berapa lama, terdengar kabar bahwa pemerintah akan membeli jet pribadi baru untuk urusan ‘dinas mendesak’. “Jet baru untuk urusan mendesak?” kata Bu Wati sambil tertawa kecil, “Mungkin kalau urusan mendesak adalah jalan-jalan ke luar negeri!”

Rakyat semakin bingung, kampanye hemat yang digembor-gemborkan tampaknya hanya berlaku untuk mereka saja. Pemerintah tetap boros, tapi rakyat terus diminta menahan diri.

“Yang penting ada kampanye,” kata Pak Joko lagi. “Mungkin lain kali mereka bikin kampanye ‘Makan Sepiring untuk Rakyat, Dua Piring untuk Pemerintah’.”

Dan begitulah, kampanye hemat itu terus bergulir. Rakyat cuma bisa tertawa miris, karena di negeri yang katanya harus berhemat, kemewahan justru ada di tangan mereka yang memegang kekuasaan. Balon-balon raksasa, drone, dan pesta kembang api mungkin hanya awal dari keborosan yang lebih besar.

[Cerpen ini diambil dalam Catatan: Tukang Parkir Pasar Simpang Pematang 2017]

Pemandangan Langit Seputaran Aji Jaya Saat Sore Hari



Di langit Aji Jaya saat senja datang,
Mentari perlahan tenggelam di ujung pandang,
Langit merah jingga berarak pelan,
Menabur cahaya yang lembut dan tenang.

Awan tipis terseret angin perlahan,
Seakan menari dalam harmoni alam,
Burung-burung terbang kembali ke sarang,
Menyambut malam yang segera datang.

Gunung-gunung di kejauhan berdiri tegar,
Siluetnya hitam di atas langit yang samar,
Angin berbisik lembut di antara pepohonan,
Membawa cerita hari yang hampir usai.

Di seputaran Aji Jaya, waktu seolah terhenti,
Menikmati keindahan sore yang penuh harmoni,
Langit dan bumi bertemu dalam keheningan,
Menyatu dalam keajaiban yang tak terlupakan.

“Semua Tai Kucing Bukan Cokelat” dan Realitas di Balik Janji Manusia

Kue Tahi Kucing

OPINI- Ungkapan “semua tai kucing bukan cokelat” sering digunakan sebagai sindiran tajam terhadap janji-janji yang terlihat indah namun jauh dari kenyataan. Kalimat ini mencerminkan ketidakpercayaan terhadap mereka yang gemar berjanji tetapi seringkali gagal dalam realisasinya.

Di tengah situasi sosial dan politik saat ini, banyak pihak, mulai dari politisi hingga figur publik, memberikan janji-janji manis kepada masyarakat. Janji-janji tersebut tampak meyakinkan dan menawarkan harapan besar. Namun, sayangnya, tidak sedikit dari janji tersebut yang hanya berakhir sebagai angan-angan, tanpa ada upaya nyata untuk mewujudkannya.

Ungkapan ini mengingatkan kita untuk lebih berhati-hati dan kritis dalam menilai janji-janji yang diberikan, terutama yang terdengar terlalu baik untuk menjadi kenyataan. Selain itu, hal ini juga menjadi refleksi tentang pentingnya kejujuran dan integritas dalam berkomunikasi, baik dalam lingkup pribadi maupun publik.

Masyarakat Butuh Tindakan Nyata, Bukan Sekadar Janji

Saat janji tidak terealisasi, yang tersisa hanyalah rasa kekecewaan dan hilangnya kepercayaan. Oleh karena itu, penting bagi mereka yang memiliki tanggung jawab publik untuk memastikan bahwa setiap janji yang diucapkan bukan sekadar retorika, tetapi didukung oleh tindakan nyata.

Mesuji, Dibalik Bilik Suara, 15 September 2024

Cheudin 

Putra 1998 

Tantangan dan Peluang Konsolidasi Partai Politik Pasca-1998

OPINI- Sejak reformasi 1998, dinamika politik Indonesia telah mengalami perubahan signifikan. Namun, dalam perjalanan sejarahnya, partai-partai politik tidak sepenuhnya menjadi alat perubahan sosial atau pembentukan kepemimpinan yang kuat. Sebaliknya, mereka lebih sering berfungsi sebagai representasi dari fraksi-fraksi elit politik yang terbentuk berdasarkan kekuatan geo-budaya tertentu, dengan dukungan dari elemen-elemen swasta di wilayah tersebut.

Fenomena ini mencerminkan bagaimana politik Indonesia terfragmentasi oleh kepentingan-kepentingan daerah dan kelompok, di mana kekuasaan diraih melalui koalisi pragmatis dan kesepakatan di belakang layar, bukan melalui perjuangan ideologis yang memobilisasi dukungan luas. Akibatnya, kepemimpinan yang muncul cenderung diisi oleh figur-figur yang terampil dalam bernegosiasi dan berkompromi, daripada pemimpin dengan visi dan integritas yang muncul dari perjuangan partai yang kokoh.

Kondisi ini menyebabkan partai-partai politik tidak mampu melahirkan tokoh-tokoh yang berwibawa, yang muncul dari basis ideologi atau visi partai yang kuat. Sebaliknya, yang mendominasi adalah “tukang manuver” politik, yang lebih fokus pada kesepakatan jangka pendek daripada agenda jangka panjang yang pro-rakyat. Fenomena ini juga memperlemah sistem demokrasi, karena rakyat semakin apatis terhadap partai politik yang terlihat hanya berfungsi untuk mempertahankan status quo elit.

Solusi yang Menantang: Membangun Partai Progresif

Tidak ada solusi instan untuk keluar dari siklus ini. Memang ada opsi untuk mengakhiri pola politik pragmatis ini, tetapi solusinya tidak mudah dan membutuhkan keberanian untuk berjuang di luar kenyamanan sistem yang ada. Salah satu jalannya adalah dengan membangun gerakan politik yang kuat, progresif, dan berkomitmen untuk memperjuangkan kepentingan publik secara konsisten.

Gerakan ini harus berani melawan dominasi elite politik yang ada dan menantang pengaruh oligarki yang selama ini membentuk partai-partai politik di Indonesia. Ini membutuhkan kerja keras dalam membangun partai politik yang mampu menginspirasi kepercayaan publik, yang bukan hanya terlibat dalam negosiasi kekuasaan, tetapi juga aktif memperjuangkan kebijakan yang memihak rakyat. Selain itu, partai ini harus siap untuk bekerja keras, meraih dukungan melalui pendekatan ideologis yang jelas, dan berani berkorban demi perubahan struktural yang mendasar.

Pendekatan ini bukan tanpa risiko. Elite politik yang sudah mapan akan berusaha mempertahankan posisinya dengan berbagai cara. Namun, sejarah membuktikan bahwa perubahan besar selalu membutuhkan pengorbanan dan ketekunan. Jika gerakan politik ini berhasil, Indonesia bisa melihat lahirnya pemimpin yang tidak hanya memiliki integritas, tetapi juga visi untuk membawa negara ini ke arah yang lebih adil dan inklusif.

Kesimpulan

Sejarah partai politik di Indonesia pasca-1998 telah menunjukkan kelemahan dalam sistem perwakilan politik yang terlalu terfragmentasi oleh kepentingan elit lokal dan regional. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan gerakan politik yang mampu menantang status quo, membangun partai politik progresif yang berani memperjuangkan kepentingan rakyat, dan melahirkan pemimpin yang berasal dari perjuangan ideologis yang kokoh. Solusinya memang sulit, tapi bukan tidak mungkin.

Mesuji, Tempat Gelap, 09 September 2024

BSS [Bukan Siapa-Siapa]

Anak era reformasi 98

Kehidupan Pasutri di Ibu Kota

Saya dan istri pernah tinggal di Jakarta, kota yang sering digambarkan sebagai kejam bagi mereka yang berjuang di dalamnya. Kami menikah pada tahun 2006, dan satu tahun kemudian, istri saya hamil anak pertama kami, seorang bayi laki-laki. Namun, kebahagiaan itu segera berubah menjadi mimpi buruk. Kandungan istri saya lemah, dan setelah mengalami kontraksi berkepanjangan, bayi kami harus dilahirkan prematur. Sayangnya, anak pertama kami tidak bisa diselamatkan.

Saat itu, kami marah. Kami menyalahkan dokter, rumah sakit, dan siapa saja yang terlibat. Kami merasa nyawa anak kami tidak ditangani dengan baik. Namun, seiring waktu, kami mulai menyadari bahwa ini adalah bagian dari takdir yang harus kami terima, meski begitu berat.

Satu tahun kemudian, istri saya kembali hamil, kali ini anak perempuan. Namun, lagi-lagi, kandungan istri bermasalah. Dokter bahkan menyarankan aborsi, karena menurut mereka, anak kami mengalami penyakit hidrosefalus—kondisi di mana cairan menumpuk di otak sehingga kepala bayi membesar. Dokter mengatakan tidak ada harapan bagi bayi ini, dan aborsi adalah pilihan terbaik untuk menyelamatkan istri saya.

Namun, kami tidak bisa menerima saran itu. Bagi kami, itu melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Kami memilih untuk mempertahankan kehamilan dengan segala risiko yang mungkin terjadi. Kami siap kehilangan anak kami, atau bahkan istri saya sekalipun, jika itu adalah takdirnya.

Dengan kekuatan Allah, anak kami berhasil dilahirkan melalui operasi pada usia kandungan 10 bulan. Namun, baik istri saya maupun bayi perempuan kami harus dirawat secara intensif. Anak kami masuk ke dalam inkubator selama 14 hari, dan kami merencanakan untuk membawanya ke Singapura guna menjalani operasi besar untuk mengganti tempurung kepalanya.

Sayangnya, sebelum rencana itu terlaksana, Allah memanggilnya. Anak kami tidak mampu bertahan dan meninggal sebelum mencapai hari ke-14 di inkubator. Kehilangan kedua anak ini begitu memukul kami. Derita yang kami alami seakan tak tertahankan.

Dokter pun menyarankan istri saya untuk tidak hamil lagi dalam waktu dekat. Namun, kami masih berharap bisa memiliki anak. Pada tahun 2012, kami diberkahi dengan kehamilan ketiga. Proses kehamilan ini penuh dengan perjuangan dan tantangan. Nyawa istri saya kembali dipertaruhkan. Setelah proses persalinan yang terhambat selama berjam-jam, anak ketiga kami akhirnya lahir melalui operasi caesar. Dia pun harus dirawat di rumah sakit selama beberapa waktu sebelum bisa pulang.

Setelah melalui semua ini, saya mengambil keputusan besar: keluar dari pekerjaan saya di perusahaan swasta dan memulai kehidupan baru bersama istri dan anak kami. Kami ingin fokus pada keluarga, mencoba meraih kebahagiaan yang sederhana namun berarti.

Demikian cerita singkat ini. Mungkin di lain waktu, saya akan melanjutkan kisah perjuangan hidup kami.